Indonesia

Atribut kontemporer

Pendidikan Masa Rasulullah SAW

Pengertian Pendidikan

Kata“pendidikan”yangumum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “alama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa arabnya “tarbiyah wa ta’lim” sedangkan “pendidikan islam” dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah islamiyah”. Kata kerja rabba (mendidik) sudah di gunakan pada zaman nabi muhammad SAW.

Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “ menumbuhkan” kemampuan dasar manusia.

Jadi, Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan sseseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya, dengan kata lain pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi.

Definisi Pendidikan Islam Menurut Para Ahli

  1. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba : Pendidikan islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
  2. Menurut Musthafa Al-Ghulayaini: Pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air. Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan adanya titik persamaan yang secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut : Pendidikan Islamialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.

 

Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Bahasa

Al-Tarbiyah Kata tarbiyah berasal berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban[1] yang berarti mengasuh, memimpin, mengasuh (anak). Penjelasan atas kata Al-Tarbiyah ini lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut. rabba, yarubbu tarbiyatan yang mengandung arti memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Dengan menggunakan kata yang ketiga ini, meka terbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam kehidupannya.[2]Dengan demikian, pada kata Al-Tarbiyah tersebut mengandung cakupan tujuan pendidikan, yaitu menumbuhkan dan mengembangkan potensi; dan proses pendidikan, yaitu memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengaturnya.    Karena demikian luasnya pengertian Al-Tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan, seperti Naquib al-Attas yang tidak sependapat dengan pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata Al-Tarbiyah dengan arti pendidikan.  Menurutnya kata Al-Tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga menjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia, menurutnya tidak dapat dididik, karena benda-benda alam selain manusia itu tidak memliki persyaratan potensional seperti akal, pancaindera, hati nurani, insting, dan fitrah yang meungkinkan untuk dididik. Yang memiliki potensi-potendi akal, pancaindera, hati nurani insting dan fitrah itu hanya manusia. Untuk itu Naquib al-Attas lebih memiliki kata al-ta’dib (sebagaimana nanti akan dijelaskan) untuk arti penidikan., dan bukan kata Al-Tarbiyah.[3] 2.      Al-Ta’lim Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al-Ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan mengajar dan melatih[4]. Sementara itu Muhammad Rasyid Ridha mengartiakn al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[5]Sedangkan H.M Quraisy Shihab, ketika mengartikan kata yu’allimu sebagaimana terdapat pada surah al-Jumu’ah (62) ayat 2, dengan arti mengajar yang intinya tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.[6] Kata al-Ta’lim dalam al-Quran menunjukan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikmah, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, ilmu laduni (yang langsung dari tuhan), nama-nama atau simbol-simbol dan rumus-rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu yang terlarang seperti sihir. Ilmu-ilmu baik yang disampaikan melalui proses at-Talim tersebut diklakukan oleh Allah Ta’ala, malaikat, dan para Nabi. Sedagkan ilmu pengethuan yang berbahya diajarkan oleh setan. Kataal-Ta’lim dalam arti pendidikan sesungguhnya merupakan kata yang paling lebih dahulu digunakan dari pada kata al-Tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengjaran yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad n dirumah al-Arqom (daar al Arqom) di Mekah, dapat disebut sebagai majlis al-Ta’lim. Demikain pula kegiatan pendidikan Islam di Indonesia yang dilaksanakan oleh para dai dirumah, mushala, masjid, surau, langgar, atau tempat tertentu. pada mulanya merupakan kegiatan al-Ta’lim. Dengan memberikan data dan informasi tersebut, maka dengan jelas, kata Al-Ta’lim termasuk kata yang paling tua dan banyak digunakan dalam kegiatan nonformal dengan tekanan utama pada pemberian wawasan, pengetahuan atau informasi yang bersifat kognitif. Atas dasar ini, maka arti Al-Ta’lim lebih pas diartikanpengajaran daripada diartikan pendidikan. Namun, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, maka pengajaran juga termasuk pendidikan. 3.      At-Ta’dib Kata At-Ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang berarti pendidikan. Kata At-Ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab. Bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika.[7] Kata At-Ta’dib dalam arti pendidikan, sebagimana disinggung diatas, ialah kata yang dipilih oleh Naquib al Attas. Dalam hubungan ini, ia mengartikan At-Ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Melalui kata At-Ta’dib ini, al Ataas ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber dalam ajaran Agama yang bersumber padadiri manusia, sehingga menjadi dasar bagi terjadinya proses Islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan ini menurutnya perlu dilakukan dalam rangka membendung pengaruh materialisme, sekularisme, dan dikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat. [8] 4.      At-Tahdzib Kata At-Tahdzib secara harfiah berarti pendidikan akhlak, atau menyucikan diri dari perbuatan akhlak yang buruk, dan berarti pula terdidik atau terpelihara dengan baik, dan berarti pula yang beradab sopan. [9] Dari pengertian tersebut, tampak bahwa secarakeseluruhan kata At-Tahdzib terkait dengan perbaikan mental spiritual, moral dan akhlak, yaitu memperbaiki mental seseorang yang tidak sejalan dengan ajaran atau norma kehidupan menjadi sejalan dengan ajaran atau norma; memeperbaiki perilakunya agar menjadi baik dan terhormat, serta memperbaiki akhlak dan budi pekertinyaagar menjadi berakhlak mulia. Berbagai kegiatan tersebut termasuk bidang kegiatan pendidikan. Itulah sebabnya, kata At-Tahdzib juga berarti pendidikan. 5.      Al- Wa’dz atau al-Mau’idzoh Al- Wa’dz berasal dari kata wa’adza yang berarti mengajar, kata hati, suara hati nurani, memperingatkan atau mengingatkan, mendesak dan memperingatkan.[10]Inti Al- Wa’dz atau al-Mau’idzoh adalah pendidikan dengan cara memberikan penyadaran dan pencerahan batin, agar timbul kesadaran untuk menjadi orang yang baik. 6.      Ar-Riyadhah Ar-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti penjinakan, latihan, melatih.[11] Dalam pendidikan, kata Ar-Riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dan akhlak mulia.Kata Ar-Riyadhah selanjutnya banyak digunakan dikalangan para ahli tasawuf dan diartikan agak berbeda dengan arti yang digunakan para ahli pendidikan dikalangan para ahli tasawuf Ar-Riyadhah diartikan latihan spiritual rohaniah dengan cara khalwat dan uzlah (menyepi dan menyendiri) disertai perasaan batin yang takwa. 7.      Al-Tazkiyah Al-Tazkiyah berasal dari kata zakka, yuzakki, tazkiyyatan yang berarti pemurnian atau pensucian.[12] Kata Al-Tazkiyah atau yuzakki telah digunakan oleh para ahli dalam hubunganya dengan mensucikan atau pembersihan jiwa seseorang dari sifat-sifat yang buruk (al-Takhali), dan mengisinya dengan akhlak yang baik (al-Tahali), sehingga melahirkan manusia yang memiliki keahlian dan akhlak yang terpuji. Dalam hubungan ini, Ibnu Sina dan al Ghazali menggunakan istilah Al-TazkiyahAlannafs (menyucikan diri) dalam arti membersihkan rohani dari sifat-sifat yang tercela.[13] Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa kata Al-Tazkiyah ternyata juga digunakan untuk arti pendidikan yang bersifat pembinaan mental spiritual dan akhlak mulia. 8. Al-Talqin    Kata al-Talqin berasal dari laqqana yulaqqinu talqinan yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan perkataan.[14]    Abuddin Nata menyebutkanbahwa kata tersebut dijumpai dalam hadits sebagai berikut: “ajarilah (orang yang hampir neminggal dunia) kalimat laa ila haillallah (tiada tuhan selain Allah ).”Perintah mengajarkan kalimat tauhid ( lailaha illallah ) sebagaimanatersebut selalu dipraktikkan umat Islam pada setiap kali menyaksikan keluarga, teman, tetangga atau lainya yang sesama muslim, pada saat mereka menjelang datangnya ajal atau sakaratul maut.Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-Talqin digunakan pula untuk arti pendidikan dan pengajaran.[15] 9. Al-Tadris    Kata al-Tadris berasal dari kata darrasa yudarrisu tadrisan, yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan.[16]Selain itu, kata al-Tadris berarti Baqa’ atsaruha wa baqa’ al Atsar yaqtadli inmihauhu fi nafsihi, yang artinya: sesuatu yang pengaruhnya membekas, menghendaki adanya perubahan pada diri seseorang. Intinya, kata al-Tadris berarti pengajaran, yaknimenyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang selanjutnya memberi pengaruh dan menimbulkan perubahan pada dirinya.[17] Kata al-Tadris, termasuk yang sudah banyak digunakan para ahli pendidikan, bahkan pada perguruan tinggi Islam. kata al-Tadris digunakan untuk nomenklatur jurusan atau program studi yang mempelajari ilmu-ilmu umum, seperti matematika, biologi, ilmu pengetahuan sosial, ilmu budaya dan dasar, dan fisika. 10. al-Tafaqquh Kata al-Tafaqquh berasal dari kata tafaqqoha yatafaqqohu tafaqquhan, yang berartimengerti dan memahami[18]. Kataal-Tafaqquh selanjutnya lebih digunakan untuk menunjukan pada kegiatan pendidikan dan pengajaran ilmu agama Islam. masyarakat yang mendalami ilmu agama di pesantren-pesatren di Indonesia misalnya, sering menyebut sedang melakukan al-Tafaqquhfi al ddin, yakni mendalami ilmu agama, sehingga ahli ilmu agama yang mumpuni yang selanjutnya disebut ulama, kiai, ajengan, buya, syaikh, dan sebagianya. 11. al-Tabyin Kata al-Tabyin berasal dari kata bayyana yubayyinu tabyinan, yang mengandung arti mengemukakan, mempertunjukan,berarti pula menyatakan atau menerangkan.[19] Di kalangan para ahli, belum ada yang menggunakan Al-Tabyin sebagai salah satu arti pendidikan. Namun dengan alasan tersebut Abuddin Nata memberanikan dirinya untuk memasukkan kata Al-Tabyin sebagai salah satu arti pendidikan. Di dalam dalam al Quran, kosakata at-Tabyin  dengan derifasinyadisebutkan sebanyak 75 kali, diantaranya: “Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia supaya mereka bertakwa”(QS. al Baqarah [2] : 187) major-bidi;”>Dari penjelasan ayat tersebut terlihat, bahwapada umumnya, kata al-Tabyin diartikan menerangkan atau menjelaskan tentang ayat-ayat Allah Ta’ala sebagaimana terdapat di dalam al Quran dan kitab-kitab lainnya yang diwahyukan Tuhan. Penerangan dan penjelasan tersebut dilakukan oleh para nabi atas perintah Tuhan. Dengan demikian para nabi bertugas sebagai al Mubayyin, yaitu orang yang menjelaskan atau orang yang menerangkan. 12. al-Tadzkirah    Kata al-Tadzkirah berasal dari kata dzakkaraa yudzakkiru tadzkirotan, yang berarti peringatan, mengingatkan kembali.[20]Selain itu, juga berarti sesuatu yang perlu diperingatkan yang sifatnya lebih umum dari pada indikasi (addilalah) atau tanda-tanda ( al imarah ). Dari beberapa arti kata altadzkirah tersebut ternyata ada arti yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran, yaitu mengingatkan kembali atau memberikan peringatan, karenadidalam kegiatan pendidikan dan pengajaran terdapat kegiatan yang bertujuan mengingatkan peserta didik agar memahami sesuatu atau mengingatkan agar tidak terjerumus kedalam perbuatan yang keji. 13. al-Irsyad Kata al-Irsyad dapat mengandung arti menunjukan, bimbingan, melakukan sesuatu, menunjukan jalan.[21]Dari pengertian al-Irsyad ini, terdapat pengertian yang berhubungan dengan pengajaran dan pendidikan, yaitu bimbingan, pengarahan, pemberian informasi, pemberitahuan, nasihat, dan bimbingan spiritual. Dengan demikian kata al-Irsyad layak dipertimbangkan untuk dimasukkan kedalam arti kata pendidikan dan pengajaran.[22]

 

Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Istilah[23] Istilah atau terminologi pada dasarnya merupakan kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing terhadap pengertian tentang sesuatu. Dengan demikian dalam istilah tersebut terdapat visi, misi, tujuan yang diinginkan oleh yang merumuskannya, sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, kecenderungan, kepentingan, kesenangan dan sebagainya. Berikut pengertian menurut para ahli; Menurut Ahmad Fuad al Ahwaniy : “Pendidikan adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh dari pandangan hidup tiap masyarakat. Pendidikan senantiasa sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau pendidikan itu pada hakikatnya mengaktualisasikan falsafah dalam kehidupan nyata.” Menurut Ali Khalil Abul Ainain : “Pendidikan adalah program yang bersifat kemasyarakatan, oleh karena itu, setiap falsafah yang dianut oleh suatu masyarakat berbeda dengan falsafah yang dianut masyarakat lain sesuai dengan karakternya, serta kekuatan peradaban yang memengaruhinya yang dihubungkan dengan upaya menegakkan spiritual dan falsafah yang dipilih dan disetujui untuk memperoleh kenyamanan hidupnya. Makna dari ungkapan tersebut ialah bahwa tujuan pendidikan diambil dari tujuan masyarakat, dan perumusan operasionalnya ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan disekitar tujuan pendidikan tersebut terdapat atmosfer falsafah hidupnya. Dari keadaan yang demikian itu, maka falsafah pendidikan yang terdapat dalam suatu masyarakat lainnya, yang disebabkan perbedaan sudut pandang masyarakat, serta pandangan hidup yang berhubungan dengan sudut pandang tersebut.                Menurut Muhammad Athiyah al Abrasyi : “Pendidikan Islam tidak seluruhnya bersifat keagamaan, akhlak, dan spiritual, namun tujuan ini merupakan landasan bagi tercapainya tujuan yang bermanfaat. Dalam asas pendidikan Islam tidak terdapat pandangan yang bersifat materialistis, namun pendidikan Islam memandang materi, atau usaha mencari rezeki sebagai masalah temporer dalam kehidupan, dan bukan ditujukan untuk mendapatkan materi semata-mata, melainkan untuk mendapatkan manfaat yang seimbang. Di dalam pemikiraan al Farabi, Ibnu Sina, Ikhwanul as Shafa terdapat pemikiran, bahwa kesempurnaan seseorang tidak akan tercapai, kecuali dengan mensinergikan antara agama dan ilmu.” Menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke-2, pada tahun 1980 di Islamabad: “Pendidikan harus ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan personalitas manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikain pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia pada seluruh aspeknya ; spiritual, intelektual, daya imajinasi, fisik, keilmuan dan bahasa, baik secara individual maupun kelompok serta dorongan seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. tujuan akhir pendidikan diarahkan pada upaya merealisasikan pengabdian manusi kepada Allah ta’ala, baik pada tingkat individual, maupun masyarakat dan kemanusiaan secara luas.”

 

Tiga Objek Pendidikan Dalam Al-Quran

Al-Quran membagi objek pendidikan menjadi tiga objek. Yang pertama adalah objek individual. Kedua adalah objek keluarga dan orang-orang dekat, dan ketiga adalah objek masyarakat.

Objek individual.  Maksud dari objek individual adalah bahwa objek pendidikan tersebut adalah dirinya sendiri. Yakni seseorang mendakwahi dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. sebelum Allah menurunkan wahyu kepada beliau saw. Allah memberikan beliau semacam wahyu untuk menyendiri di dalam gua Hira. Tak lain tujuannya adalah untuk mendakwahi diri sendiri dengan mentadaburi alam dan melihat keadaan sekitar berupa masyarakat Makah yang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Objek dakwah individual inilah yang Allah singgung dalam Al-Quran surat at-Tahrim ayat keenam. Allah berfirman yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (At-Tahrim: 6)

Dalam ayat yang lainnya, bahkan Allah memperingatkan orang yang gemar berdakwah kepada orang lain, tapi dirinya sendiri tidak ia dakwahi, dalam artian dia tidak melaksanakan apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaf: 3)

Ayat ketiga dari surat ash-shaf tersebut memberikan kita sinyal bahwa individu kita perlu kita perbaiki, maka dari itulah objek pertama adalah individu bukan yang lainnya. Di samping itu, ketika kita memberikan sebuah pengajaran kepada orang lain, atau orang dekat semisal anak sendiri, namun ternyata apa yang kita perintahkan kepada orang lain tersebut tidak kita kerjakan, kemudian apa yang akan mereka katakan tentang diri kita? pastinya adalah cemoohan.

Selanjutnya yang kedua adalah objek keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita. Ini adalah sasaran kedua setelah individu. Sebagaimana firman Allah di atas, Allah menyebutkan “Jagalah dirimu” setelah itu Allah melanjutkan “dan keluargamu”. Ibarat penjagaan polisi dari terorisme, individu ada di ring pertama dan keluarga ada di ring kedua.

Dakwa seseorang kepada keluarga dekatnya dan juga kepada orang-orang yang hidup bersamanya, mulai dari teman dan kolega, merupakan dakwah yang dilakukan oleh para nabi termasuk Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw. ketika selesai mendapat perintah untuk berdakwah, beliau tidak langsung menuju ke Ka’bah di mana Ka’bah adalah tempat berkumpulnya masyarakat Makah waktu itu, tetapi beliau berdakwah kepada keluarganya terlebih dahulu. Hal ini juga atas petunjuk dari Allah langsung sebagaimana firmannya:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’arâ’: 214)

Sebab itulah mengapa orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita adalah Khadijah, siapa beliau? Istri Nabi. Dari golongan anak kecil Ali bin Abi Thalib, siapa beliau? Sepupu sekaligus anak asuh Nabi. Dari kalangan orang dewasa Abu Bakar, siapa beliau? kolega bisnis Nabi sekaligus sahabat karibnya.

Lihatlah, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah keluarga dan orang-orang dekat beliau. Mengapa? karena objek tarbiyah beliau memang orang-orang terdekat pada mulanya.

Kita juga bisa melihat bagaimana Nabi Ibrahim mendidik Ismail. Dari hasil didikan beliau, muncul sosok Ismail yang sangat taat dengan perintah Allah juga perintah bapaknya, meskipun lehernya harus dipertaruhkan. Lihatlah juga bagaimana Nabi Ya’kub mendidik Yusuf. Hasil didikan beliau memunculkan sosok Yusuf yang pemurah, penyabar, dan pemaaf. Padahal jika mau, Yusuf bisa saja membalas kelakuan buruk kakak-kakaknya ketika beliau menjadi menteri ekonomi di Mesir kala musim paceklik datang.

Selanjutnya, objek ketiga berupa masyarakat. Tentu Islam hadir tidak hanya untuk menshalihkan individu tertentu dan atau keluarga tertentu, melainkan untuk menshalihkan semua orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Secara tegas Allah memperingatkan kepada kita agar kita tidak tiga egois dengan keadaan orang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak ditimpakan hanya untuk orang-orang yang zhalim saja dan ketahuilah bahwasanya azab Allah amatlah keras.”

Ayat ini memberikan indikasi bahwa kita jangan merasa aman ketika kita sudah shalih. Padahal di samping kanan dan kiri kita masih  banyak orang yang berbuat kezhaliman. Maka dari sini kita paham bahwa objek ketiga dari pendidikan adalah masyarakat umum.

Namun, apakah seseorang harus shalih individunya dahulu sebelum mendidik keluarga dan masyarakat? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah sikap tawazun atau keseimbangan antara menshalihkan diri sendiri dengan menshalihkan keluarga dan menshalihkan masyarakat. Sebab itulah Rasulullah menyampaikan, “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.” Artinya apa yang kita sampaikan adalah apa yang kita ketahui.

Rasulullah dalam mendidik masyarakat pun tidak menunggu keluarganya shalih semua. Kita lihat paman beliau, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil, keduanya adalah keluarga dekat Nabi saw. namun mereka tetap ingkar dan Rasul pun tetap melanjutkan tugasnya mendidik masyarakat Makah.

 

Pelaksanaan Pendidikan Islam Di Mekkah

Materi Pendidikan Islam Di Mekkah Islam yang pertama kali lahir dari tanah Arab, dan tantangan pengajaran tentang Islam pertama kali, bermuara di Mekkah. Mekkah yang sebelum kedatangan Islam, sangat jauh dari nilai-nilai aqidah monotheisme (tauhid) sebagaimana yang sudah di usung oleh junjungan Nabi-nabi sebelumnya. Sebagai implikasinya, Rasulullah dalam penguatan materi pendidikan di periode Mekkah sangat mengutamakan perbaikan aqidah dan tauhid.

Secara umum, muatan materi pendidikan pada Islam periode Mekkah yang diberikan oleh Rasulullah di bagi empat bagian, antara lain, yaitu : Pertama, pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyyah. Secara teori, inti sari ajaran ini termuat dalam kandungan surat al-Fatihah:1-7, dan al-Ikhlas: 1-5. Selain itu, pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid juga yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa kekerasan.

Dalam materi ini dirinci kepada: (1) Materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla` dan iqra`), (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan (3) Materi pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmi al-Qur`an atau tafsir al-Qur`an (Yunus: 11-12).

Ketiga, pendidikan amal dan ibadah, dimana berupa perintah sholat yang awal mulanya, Nabi sholat bersama sahabat-sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Umar ibn Khattab masuk Islam beliau melakukannya secara terang-terangan. Pada mulanya sholat itu belum dilakukan sebanyak lima kali sehari semalam kemudian setelah Nabi Isra’ dan Mi’raj barulah diwajibkan untuk sholat lima waktu. Selain itu, mengajarkan seputar zakat, yakni semasa di Mekkah konsep zakat diberikan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim serta membelanjakan harta untuk jalan kebaikan.

Keempat, pendidikan akhlaq, di mana Nabi semasa di Mekkah sangat menekankan kepribadian yang baik (akhlaqul mahmudah), diantaranya :

  1. Adil yang mutlak, meskipun terhadap keluarga atau diri sendiri.
  2. Menepati janji, tepat pada waktunya.
  3. Takut kepada Allah semata dan tiada takut kepada berhala.
  4. Berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, dan sebagainya.

Pada Islam Mekkah materi pengajaran al-Quran yang diberikan hanya berkisar pada ayat-ayat al-Quran pada surah-surah yang diturunkan ketika Nabi sebelum Hijrah ke Madinah. Surah yang diturun di Mekkah inilah yang kemudian dikenal dengan nama surah Makkiyah.[2]

Metode Pendidikan Islam Di Mekkah Pendidikan Islam adalah rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup Untuk mencapai pada pengertian pendidikan tersebut tentunya seorang pendidik memerlukan metode-metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan. Begitu juga dengan Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Adapun metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya, antara lain :

  1. Metode ceramah.
  2. Diskusi / tanya jawab.
  3. Metode perumpamaan.
  4. Metode kisah.
  5. Metode pembiasaan.
  6. Metode hafalan.

Adapun yang menjadi salah satu faktor penting metode pendidikan Islam, adanya kejayaan pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah Saw. Faktor tersebut ialah “karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah Saw adalah al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an), artinya pada diri Rasulullah SAW tercermin semua ajaran al-Qur’an dalam bentuk nyata. Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya. Oleh karena itu para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.[3]

           Kurikulum Pendidikan Islam periode Mekkah Kurikulum merupakan pedoman ataupun dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Pada masa Rasulullah kurikulum yang digunakan adalah Al Quran yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami pada saat itu (Nizar, 2007:36). Al-Qur`an pu merupakan sentral kurikulum saat itu, yang mana kurikulum saat itu masih sering di definisikan dengan materi ajar. Maka, sebagai langkah awal, muatan materinya berfokus pada nilai-nilai tauhid dalam menguatkan militansi untuk beragama Islam. Philip K Hitti pun menambahkan, bahwasanya materi pelajaran atau kurikulum sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook (Susari, 2004: 33).

Lembaga Pendidikan Islam Pada Islam Mekkah Dalam catatan sejarah pendidikan Islam di periode Mekkah, menyebutkan ada dua tempat yang menjadi lembaga pendidikan Islam pada periode Mekkah, di antaranya :

  1. Rumah Arqam ibn Arqam adalah merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah Saw untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.[4]
  2. Kuttab adalah merupakan tempat pendidikan yang paling tua, bahkan ada yang mengatakan Kuttab lahir sebelum datangnya Islam. Pendidikan di Kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Philip K. Hitti menambahkan, bahwasanya materi pelajaran di Kuttab sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook. Kuttab dalam modernisasi sekarang bisa disamakan dengan madrasah ibtidaiyyah. Adapun waktu belajar di Kuttab, waktu pagi hingga dhuha mempelajari al-Qur`an, dhuha hingga siang mempelajari cara menulis, sedang dhuha hingga siang, mempelajari gramatikal Arab, matematika, dan sejarah. Dua tempat pendidikan tersebut, menjadi dasar perkembangan tempat-tempat pendidikan yang semakin berkembangnya zaman, adanya inovasi, khususnya pada bangunan tempat pendidikan, guna mengkondusifkan sebuah pengajaran

Pelaksanaan Pendidikan Islam Di Madinah

Kedatangan Nabi Muhammad Saw bersama kaum muslimin Makkah, disambut oleh penduduk madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka, islam mendapatkan lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Makkah.

Tetapi ternyata lingkungan yang baru tersebut bukanlah lingkungan yang betul-betul baik, yang tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan. Dimadinah, Nabi Muhammad SAW. menghadapi kenyataan-kenyataan yang menimbulkan permasalahan baru. Beliau menghadapi kenyataan bahwa umatnya terdiri dari dua kelompok yang berbeda latar kehidupannya, yaitu (1). Mereka yang berasal dari makkah yang di sebut dengan nama kaum muhajirin, dan (2).Mereka yang merupakan penduduk asli madinah, yang kemudian disebut dengan kaum Ansor.

 

Kenyataan lain yang yang dihadapi Nabi Muhammad SAW. adalah masyarakat kaum muslimin yang baru di madinah tersebut, berhadapan atau tinggal bersama dengan masyarakat suku bangsa Arab lainnya yang belum masuk islam dan masyarakat kaum yahudi yang memang sudah menjadi penduduk madinah. Dan ancaman dari kaum Quraisy makkah untuk sewaktu-waktu datang menyerbu dan menghancurkan kaum muslimin yang masih dalam keadaan lemah itu merupakan kenyataan lainnya yang tidak dapat diabaikan.

Melihat kenyataan tersebut, beliau mulai mengatur dan menyusun segenap potensi yang ada dalam lingkungannya, memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan potensi dan kekuatan yang ada, dalam rangka menyusun suatu masyarakat baru yang terus berkembang, yang mampu menghadapi segenap tantangan dan rintangan yang berasal dari luar dengan kekuatan sendiri.

Ciri pokok pembinaan pendidikan islam dapat dikatakan sebagai pendidikan social dan politik. Pembinaan pendidikan di madinah pada hakikatnya adalah merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan social dan politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga akhirnya tingkah laku social politiknya merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.

Pendidikan sosial dan politik yang di laksanakan oleh nabi Muhammad SAW kepada umatnya berlangsung terus atas bimbingan wahyu tuhan. Dan wahyu tuhan yang turun pada periode ini adalah dalam rangka memberikan petunjuk bagi Nabi Muhammad SAW dalam memberikan keputusan-keputusan dan mengambil kebijaksanaan untuk membina umat dan masyarakat islam.

Pembinaan kesatuan dan persatuan social yang menimbulkan solidaritas social yang semakin tinggi itu dibarengi dengan pembinaan kearah satu kesatuan politik sekaligus. Nabi Muhammad SAW berusaha membawa umatnya kedalam suatu kehidupan yang mandiri, yang tidak menyandarkan diri kepada kekuatan dari luar. Mereka berusaha untuk mengatir diri mereka sendiri, sehingga merupakan kekuatan politik yang di akui oleh dan hidup bersama dengan masyarakat sekitarnya, tanpa adanya campur tangan dari luar. Dalam rangka pembinaan kesatuan politik tersebut pertama-tama nabi Muhammad membuat perjanjian kerjasama dengan orang-orang yahudi di Madinah.perjanjian tersebut sekaligus berarti bahwa masyarakat baru yang dibentuknya, telah mendapatkan pengakuan dari pihak yahudi yang memang sudahlama merupakan satu kesatuan politik yang berpengaruh di Madinah.

Kurikulum pendidikan islam: Kurikulum pendidikan islam pada periode Rasulullah baik di mekkah maupun Madinah adalah al-qur’an yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat islam pada saat itu, karena itu dalam praktiknya tidak saja logis dan rasional, tetapi juga fitrah dan pragmatis. Hasil cara yang demikian dapat di lihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya.

Materi Pendidikan Islam Di Madinah: Pada fase madinah materi pendidikan yang di berikan cakupnya lebih kompleks di bandingkan dengan materi pendidikan fase makkah. Diantara pelaksanaan pendidikan islam di madinah ialah:[6]

  1. Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin.

Dalam melaksanakan pendidikan ukhuwah ini, nabi Muhammad Saw. Bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada msa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu nabi Muhammad berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka di persaudarakan karena Allah bukan karena yang lain-lain. Sesuai dengan isi konsitusi Madinah pula, bahwa antara orang yang beriman, tidak boleh membiarkan saudaranya menanggung beban hidup dan utang yang berat di sesame meraka. Antara orang beriman satu dengan yang lainnya haruslah saling membantu dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka harus bekerja sama dalam mendatangkan kebaikan, mengurus kepentingan bersama, dan menolak kejahatan atau kemudaratan atau kejahatan yang akan menimpa.

  1. Pendidikan kesejahteraan sosial

Terjaminnya kesejahteraan social, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah tetapi problem yang dihadapi masyarakat baru di Madinah dalam hal itu adalah masalah pekerjaan, terutama bagi kaum muhajiri, sedangkan kaum anshor sudah mempunyai pekerjaan sebagai petani dan memiliki sebidang tanah. Dan perdagangan, pada umumnya di kusai oleh orang-orang yahudi.

  1. Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat

Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri, dan anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan system kekeluargaan kekerabatan baru, yang berdasarkan kepada Allah. Dan berdasarka pada pengakuan hak-hak individu, hak-hak keluarga dan kemurnian keturunannya dalam kehidupan kekerabatan dan kemasyarakatan yang adil dan seimbang.

  1. Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan)

Dakwah islam Masyarakat kaum muslim merupakan satu state(negara) dibawah bimbingan nabi muhammad saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh karena itu, setelah masyarakat kaum muslim di madinah berdiri dan berdaulat, usaha Nabi Muhammad SAW berikutnya adalah memperluas pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah sekitar nadinah untuk mengakui konstitusi madinah. Ajran tersebut di sampaikan dengan baik-baik dan bijaksana. Untuk mereka yang tidak mau mengikuti perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan Nabi Muhammad SAW yaitu:

  1. Kalau mereka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslim atau kaum kabilah yang telah mengikat perjanjian dengan kaum muslim, maka mereka di biarkan saja.
  2. Tetapi kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslim atau menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslim, maka harus di tundukkan di perangi, sehingga mereka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslim.

Untuk mengatasi masalah pekerjaan tersebut, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah di persaudarakan dengan kaum Ansor agar, mereka bekerja bersama dengan saudara-saudarany tersebut.

Permasalahan sosial berikutnya yang perlu mendapatkan pengaturan lebih lanjut adalah yang berhubungan dengan pengaturan dan penggunaan harta kekayaan. Dari usaha bersama di bidang perdagangan dan pertanian antara akum muhajirin dengan kaum ansor di madinah, mulailah terkumpul harta kekayaan. Sebagian mereka ada yang menjadi kaya, tetapi sebagian ada yang masih dalam keadaan kurang.

Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW kemudian mengatur bagaimana penggunaan harta kekayaan tersebut, agar tidak menumpuk pada orang-orang yang kaya dan agar mereka yang mempunyai tugas khusus juga dapat tepenuhi kebutuhabn hidupnya. Pertama-tama kebiasaan menumpuk harta kekayaan dengan jalan riba dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Ia hanya memperbolehkan jual beli. Kmudian harta kekayaan sampai batas tertentu diwajibkan untuk di keluarkan zakatnya, yaitu seperempat puluh dari harta kekayaan dan harta perdagangan. Demikian halnya dengan hasil pertanian dan peternakan.

 

 

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN SISTEM PEMBELAJARAN

Lembaga pendidikan islam pada fase Mekkah ada dua macam tempat yaitu:

{1}.     Rumah Arqam Ibn Arqam merupakan lembaga pendidikan yang pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam islam, utuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran islam adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah SAW sendiri.

{2}.     Kuttab. Pendidikan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakan di rumah Arqam Ibn Arqam, pendidikan di Kuttab pada awalnya terfokus kepada materi baca tulis sastra, syair arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang islam materinya di tambah dengan materi baca tulis al-qur’an dan memahami hukum-hukum islam. Adapun yang mengajar di kuttab pada era pra awal islam adalah orang-orang non-muslim. Dalam sejarah pendidikan islam, istilah Kuttab telah dikenal di kalangan bangsa arab pra islam. Ahmad Syalaby mengatakan bahwa Kuttab sebagai lembaga pendidikan terbagi dua yakni :

Dalam sejarah pendidikan islam, istilah Kuttab telah dikenal di kalangan bangsa arab pra islam. Ahmad Syalaby mengatakan bahwa Kuttab sebagai lembaga pendidikan terbagi dua yakni:

  1. Kuttab berfungsi mengajarkan baca tulis dengan teks dasar pusi-puisi arab, dan sebagian besar gurunya adalah nonmuslim. Pada mulanya pendidikan kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru atau di pekarangan sekitar masjid. Materi yang di ajarkan dalam pelajaran baca tulis ini adalah puisi atau pepatah-pepatah Arab yang mengandung nilai-nilai tradisi yang baik. Adapun penggunaan Al-Quran sebagai teks dalam kuttab baru terjadi kemudian, ketika jumlah kaum muslimin yang menguasai al-Quran telah banyak, dan terutama setelah kegiatan kodifikasi pada masa kekhalifahan ‘Usman ibn Affan’ . kebanyakan guru kuttab pada masa awal islam adalah non muslim, sebab muslim yang dapat menulis yang mana jumlahnya masih sangat sedikit sibuk dengan pencatatan wahyu.

 

Senada dengan hal di atas, Samsul Nizar menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh dua faktor: (1) menjaga kesucian al-quran, agar tidak sampai terkesan di permainkan para siswa dengan menulis dan menghapusnya. Hal ini di sebabkan para siswa di ajarkan tulis menulis di atas batu tulis, yang mana acap kali di hapus. (2) pada masa awal islam pengikut nabi yang bisa baca tulis hanya sedikit, kebanyakan mereka bertugas sebagai juru tulis nabi. Oleh sebab itu kebanyakan guru baca tulis adalah kaum Zimmi dan para tawanan perang, seperti tawanan badar. Untuk itu tidak mungkin mereka memiliki kewenangan untuk mengajarkan al-quran kepada para siswa.

  1. Sebagai pengajaran al-quran dan dasar-dasar agama islam. Pengajaran teks al-alquran pada jenis kuttab yang kedua ini, setelah qurra dan huffiazh ( ahli bacaan dan penghafal alquran telah banyak ). Guru yang mengajarkan adalah dari umat islam sendiri. Pada jenis intuisi yang kedua ini merupakan lanjutan dari kuttab yang pertama yang mana telah di ajarkan kepada siswa kemampuan baca tulis. Pada jenis yang kedua ini siswa akan di ajari pemahaman al-quran, dasar-dasar agama islam, juga di ajarkan ilmu gramatika bahasa arab dan aritmetika. Sementara kuttab yang didirikan oleh orang-orang yang lebih mapan kehidupanya , materi tambahanya adalah menunggang kuda dan berenang.

Pada fase Mekkah Rasulullah beserta sahabat menghadapi sejumlah tantangan dan ancaman dari kaum Quraisy. Menurut Ahmad Salaby, sebagaimana yang di kutip soekarno, bahwa faktor-faktor yang mendorong kaum Quraisy menentang seruan islam ialah sebagai berikut: (1) persaingan kekuasaan (persamaan hak antara kaum bangsawan dan kaum kasta hamba sahaya yang dilakukan oleh Rasulullah. (2) takut bangkit. Kaum Quraisy tidak dapat menerima agama islam yang mengajarkan bahwa manusia akan hidup lagi setelah mati. (3) taklid kepada nenek moyang secara membabi buta dan mengikuti langkah-langkah mereka dalam soal-soal peribadatan dan pergaulan adalah suatu kebiasaan yang telah berurat berakar pada bangsa Arab. (4) memperniagakan patung, agama islam melarang menyembah, memahat, menjual patung.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah setelah menghadapi dan mendengar ancaman tersebut. Ketika Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Madinah , salah satu program pertamanya adalah membangun sebuah masjid.

Dalam sejarah islam, masjid yang pertama kali di bangun Nabi adalah Masjid At-Taqwa di Quba pada jarak kurang lebih 2 mil dari kota Madinah. Rasulullah membangun sebelah Utara Masjid Madinah dan Masjid Al-Haram yang di sebut al-suffah, untuk tempat tinggal orang-orang fakir miskin yang tekun menuntut ilmu.mereka di kenal dengan “ahli suffah”.

Nakoesteen, sebagai mana yang di kutib Hasan Asari mengatakan bahwa pendidikan islam yang berlangsung di masjid adalah pendidikan yang unik karena memakai system halaqah (lingkaran). Sang syekh biasanya duduk di dekat dinding atau pilar masjid, sementara siswanya duduk di depanya membentuk lingkaran dan lutut para siswa saling bersentuhan. Kebiasaan dalam halaqah adalah bahwa murid yang lebih tinggi pengetahuanya akan duduk di sekitar syekh, murid yang level pengetahuanya lebih rendah dengan sendirinya akan duduk lebih jauh, sementara berjuang belajar keras agar dapat mengubah posisinya dalam konfigurasi halaqahnya. Halaqah biasanya terdiri dari 20 orang siswa. Metode diskusi dan dialog kebanyakan di pakai dalam berbagai halaqah, seperti dekte kemudian dilanjutkan dengan penjelasan oleh syekh. Dan menjelang akhir kelas waktu akan di mafaatkan oleh syekh untuk evaluasi bisa berbentuk Tanya jawab, terkadang syekh juga memerintahkan untuk memeriksa catatanya, mengoreksinya lagi, dan menambah seperlunya. Kemajuan halaqah ini tergantung pada sebuah kemampuan seorang syekh dalam mendidik. Biasanya apabila halaqah telah maju, maka akan banyak di kunjungi oleh peserta didik dari berbagai penjuru.

 

MATERI DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM.

Pertama materi pendidikan tauhid, materi ini lebih di fokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyrakat jahiliyah. Secara  teori intisari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surah Al-fatihah ayat 1-7 dan surah Al-ikhlas ayat 1-5. Secara praktis pendidikan tauhid diberikan melalui cara-cara yang bijaksana, menuntun akan pemikiran dengan mengajak ummatnya untuk membaca, memerhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan diri manusia sendiri. dan kemudian mausia mengajarkan  cara bagaimana mengaplikasikan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah langsung mejadi contoh bagi umatnya. Hasilnya, kebiasan masyarakat Arab yang melalui perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapanBismillahirrahmanirrahim. Kebiasan menyembah berhala, diganti dengan mengagungkan dan menyembah Allah SWT.

Kedua, materi pengajaran Al-qur’an. Materi ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Materi baca tulis Al-qur’an. Untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’ . materi ini diharapkan agar kebiasaan orang arab yang sering membaca syair-syair indah, diganti dengan membaca al-qur’an sebagai nilai sastra yang lebih tinggi.
  2.                Materi menghafal ayat-ayat Al-qur’an. Yang kemudian saat hari disebut dengan menghafalkan ayat-ayat suci Al-qur’an.
  3.                materi pemahaman Al-qur’an, saat ini disebut dengan materi fahmi Al-qur’an. Tujuannya ialah untuk meluruskan pola pikir umat islam yang dipengaruhi pola pikir jahiliah.

 

Mahmud Yunus mengklasifikasikan materi pendidikan kepada dua macam yaitu, materi pendidikan yang diberikan di mekkah dan materi yang diberikan di madinah.

Pada fase Makkah terdapat tiga macam intisari materi pelajaran, yakni:

  1. Pendidikan keimanan,

Materi keimanan yang menjadi pokok pertama adalah iman kepada Allah tuhan yang maha Esa, beriman bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rosul Allah, di wahyukan kepada al Quran sebagai petunjuk dan pengajaran bagi seluruh umat manusia.

  1. Pendidikan Ibadah.

Amal ibadah yang di perintahkan di Mekkah ialah sholat, sebagai pernyataan mengabdi kepada Allah, ungkapan syukur, membersihkan jiwa, dan menghubungkan hati kepada Allah.

  1. Pendidikan Akhlak.

Nabi menganjurkan kepada penduduk Mekkah yang telah masuk islam untuk melaksanakan akhlak yang baik, seperti adil, menepati janji, jujur, pemaaf, tawakal, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah, tolong-menolong, berbakti kepada orang tua, memberi makan orang miskin, dan musafir serta meninggalkan akhlak yang buruk.

 

Intisari pendidikan agama yang diterapkan Nabi di Madinah dapat di klasifikasikan sebagai berikut :

 

  1. Pendidikan Keimanan.

Keimanan di perkuat dengan keterangan-keterangan yang di bacakan oleh Nabi dari ayat-ayat al-Quran serta sabda beliau sendiri.

  1. Pendidikan Ibadah.

Untuk ibadah shalat di samping sholat lima waktu yang telah di sampaikan nabi di mekkah, juga di perintahkan untuk sholat jumat sebagai ganti zuhur, disamping itu juga sholat sunah seperti sholat idul fitri dan idul adha . sholat di anjurkan tepat waktu, sehingga ia menjadi tiang agama. Ibadah puasa, ibadah Haji, ibadah Zakat,

  1. Pendidikan Ahklak.

Adab masuk rumah, adab dalam bercakap-cakap, bertetangga, bergaul dalam masyarakat dll.

  1. Pendidikan Kesehatan (jasmani)

Pendidikan kesehatan dapat dilihat dari dalam amal ibadah yang dilakukan sehari-hari, seperti puasa, sholat, wudhu, mandi. Dalam al quran di jelaskan supaya makan dan minum secara sederhana, tidak berlebih lebihan.

  1. Pendidikan Kemasyarakatan.

Ibadah sangat penting dalam masyarakat seperti mengeluarkan zakat, syariat yang berhubungan dengan masyarakat, seperti berhubungan rumah tangga. Hal hal yang berhubungan dengan pergaulan sesama manusia, hal hal yang juga berhubungan dengan ekonomi dan pemerintahan.

Kurikulum adalah salah satu komponen operasional pendidikan (islam), ia mengandung materi yang diajarkan secara sistematis dengan tujuan yang telah ditetapkan. Seorang guru yang akan merencanakan suatu pelajaran tidak cukup hanya mempunyai kemampuan saja akan tetapi ia juga harus menguasai materi pengajaran.

Kurikulum pendidkan islam pada periode Rasullah SAW baik di  Makkah maupun di Madinah adalah Al-quran, yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang di alami umat islam saat itu.

Rasulullah juga menyuruh para sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing. Rasulullah berkata kepada Zaid bin Sabit :”saya hendak berkirim surat kepada kaum suryani, saya kwatir kalau mereka menambah-nambah atau mengurangi sebab itu hendaklah engkau mempelajari bahasa suryani (bahasa Yahudi).” Lalu Zaid bin  Sabit mempelajari bahasa Yahudi itu, sehingga ia menjadi ahli dalam bahasa itu. Pernyataan Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa materi pelajaran yang berasal dari dunia luar bukan barang haram bagi islam, artinya sesuatu yang tidak boleh di pelajari, akan tetapi hal yang wajib dilakukan untuk pengembangan dakwah dan pendidikan islam ke dunia luar islam.

 

METODE PENGAJARAN RASULULLAH.

Metode pengajaran ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar.

Untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan dalam mengajar para sahabatnya, Rasulullah SAW menggunakan berbagai macam metode. Hal itu dilakukan untuk menghindarkan kebosanan dan kejenuhan siswa. Di antara metode yang di terapkan Rasulullah ialah:

  1. Metode ceramah. Menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangannya.
  2. Dialog. Misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az Ibn Jabbal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi kenegri yaman, dialog antara Rasulullah dengan para sahabat untuk mengatur strategi perang.
  3. Diskusi atau Tanya jawab. Sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian Rasul menjawabnya.
  4. Metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana suatu tubuh maka anggota tubuh, lainnya akan turut merasakannya.
  5. Metode demonstrasi. Membiasakan kaum muslimin shalat berjamaah.
  6. Metode hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga Al-qur’an dengan menghafalnya.
  7. Metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan mi’raj dan tentang kisah pertemuan antara nabi Musa dan nabi Khaidir.
  8. Metode eksperimen, sosiodrama dan bermain peranan.

 

Dalam buku “Tarbiyah Islamiyah” yang ditulis oleh Najib Khalid Al-amar mengatakan bahwa, metode pendidikan islam yang di lakukan nabi Muhammad SAW. Pada periode mekkah dan madinah, adalah :

Melalui teguran langsung. Hadis Rasulullah SAW; Umar bin Salmah r.a berkata, “dahulu aku menjadi pembantu di rumah Rasulullah SAW, ketika makan, biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru, melihat itu beliau berkata, “hai ghulam, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu,”

Melalui sindiran: Rasulullah bersabda, “Apa keinginanmu kaum yang mengatakan begini begitu? Sesungguhnya aku sholat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan akupun menikahi  wanita. Maka, barang siapa yang tidak senang dengan sunnahku berarti dia bukan golonganku.

Pemutusan dari jamaah: Pernah Ka’ab bin Malik tidak ikut beserta Rasulullah SAW dalam perang Tabuk, dia berkata “Nabi melarang sahabat lainya berbicara dengan aku. Disebutkan pemutusan hubungan itu berlangsung selama lima puluh malam.” (HR.Bukhari).

Melalui perbandingan kisah orang-orang terdahulu.

Menggunakan kata Isyarat: misalnya merapatkan dua jarinya sebagai perlunya menggalang persatuan.

Keteladanan: Setiap apa yang di sampaikan Rasulullah, maka yang menjadi uswah-nya adalah Rasulullah sendiri.

 

Metode Rasulullah SAW dalam mendidik anak dapat dilihat dari arti hadis berikut ini;

Anas r.a. berkata, “Rasulullah SAW, adalah orang yang paling baik ahlaknya. Aku punya saudara yang di panggil Abu Umar.  Dia anak yang sudah di pisahkan dari susuan. Jika datang beliau berkata, “Wahai Abu Umar, apa yang dilakukan nughair (burung kecil)?” kadang-kadang beliau bermain dengan dia. Jika tiba saat sholat sementara beliau masih berada di rumah kami, beliau memunta permadani yang ada di bawahnya, lalu permadani itu beliau sapu dan di tiup-tiup. Kemudian berdiri dan diikuti oleh kami di belakangnya.”(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidji, dan Abu Daud ).

Dari hadist di atas nilai-nilai Tarbiyah yang dapat di petik ialah sebagai berikut;

  1. Meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak.
  2. Membersihkan pertanda adanya praktik amal untuk bisa berbuat bersih secara iman dan perilakunya nyata.
  3. Shalat Rasulullah di dalam rumah menanamkan pemahaman teladan di dalam urusan ibadah.
  4. Kalimat yang di ucapkan Rasulullah SAW, “Wahai Abu Umar, apa yang di kerjakan Nughair?” punya beberapa faedah di antaranya:
  5. Kata-kata akhirnya cocok dengan jiwa anak.
  6. Mudah di hafal.
  7. Mudah di ucapkan.
  8. Turunya Rasulullah ke atas intelek anak bisa membuahkan rasa optimis pada diri anak.
  9. Memakai cara dengan panggilan. Teori ini dapat memberikan kesan kepada keluarga bahwa anaknya sudah dewasa.

 

Darul Arqam.

Ketika kaum Quraisy gagal membujuk Abü Thâlib, mereka pun memilih untuk memusuhi Rasulullah saw secara langsung. Menghadapi kondisi yang demikian genting, Rasulullah saw segera mengambil langkah untuk menyelamatkan kaum Muslim dari semua siksaan. Ada dua langkah bijak yang diambil Rasulullah saw:

 

  1. Memilih rumah Arqam bin Abi al-Arqam aL-Makhzumi sebagai pusat dakwah dan tarbiyah.
  2. Memerintahkan kaum Muslim berhijrah.

 

Rumah Arqam berada di bawah Bukit Shafâ, jauh dari jangkauan kaum kafir. Rasulullah saw memilihnya sebagai tempat berkumpul kaum Muslim secara rahasia. Di sinilah, Rasulullah saw membacakan dan mengajarkan al-Qur’an. Tempat ini dipilih agar kaum Muslim aman, dan orang yang hendak masuk Islam dapat memeluk agama ini tanpa diketahui oleh orang-orang kafir. Jika Rasulullah saw dan kaum Muslim berkumpul secara terang-terangan, sudah pasti kaum musyrik akan menghalangi Nabi saw secara keji.

 

Pernah pada suatu kesempatan, para sahabat Rasulullah saw berkumpul di lereng-lereng perbukitan. Di tempat itu, mereka berkumpul untuk mendirikan shalat secara rahasia. Saat mereka sedang shalat, tak diduga beberapa orang kafir Quraisy melihat mereka. Para sahabat tentu saja kaget. Apalagi orang-orang kafir tersebut langsung mencaci-maki para sahabat dengan katakata kasar.

 

Cacian itu membuat para sahabat emosi. Mereka tidak mampu meredam amarah karena sangat kejinya kata-kata yang dilontarkan kaum kafir Quraisy. Sa’ad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat yang ada pada saat itu, segera bertindak. Dengan wajah penuh marah, ia segera menghampiri orang-orang kafir Quraisy. Perkelahian tak terhindarkan. Sa’ad berhasil membunuh salah satu dat mereka. Itulah darah orang kafir pertama yang tumpah akibat bertemunya dua kekuatan. (Ibnu Hisyâm).

 

Muncul kekhawatiran, jika benturan antara kaum Muslim dan musyrik terus terjadi, hal itu dapat membahayakan kaum Muslim. Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengambil keputusan untuk melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

 

Para sahabat menyembunyikan keislaman, dakwah, dan pertemuan mereka. Sementara Rasulullah saw sendiri melakukannya secara terang-terangan. Beliau berdakwah dan beribadah di depan mata kaum musyrik. Beliau tak takut terhadap keselamatan dirinya. Namun, untuk pertemuan dengan kaum Muslim, beliau melakukannya secara rahasia, agar mereka aman dari ancaman kaum musyrik.

 

 

Pendidikan Islam Pada Masa Khulafau Al-Rasyidin

Tahun-tahun pemerintahan Khulafa al-Rasyidin merupakan perjuangan terus menerus antara hak yang mereka bawa dan dakwahkan kebatilan yang mereka perangi dan musuhi. Pada zaman khulafa al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkanAl-Qur’an dan Sunnah di ibu kota khilafah di Makkah, di Madinah dan di berbagai negri lain yang ditaklukan oleh orang-orang islam.

Berikut penguraian tentang pendidikan Islam pada masa Khulafa al- Rasyidin:

  1. Masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq

Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan KuttabKuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul terdekat.

Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya.

  1. Masa Khalifah Umar bin Khattab

Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.

Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.

Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.

  1. Masa Khalifah Usman bin Affan.

Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.

Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa ini diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah.

  1. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.

Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin antara lain:

  1. Makkah
  2. Madinah
  3. Basrah
  4. Kuffah
  5. Damsyik (Syam)
  6. [19]
  7. Kurikulum Pendidikan Islam Masa khulafa al Rasyidin (632-661M./ 12-41H)

Sistem pendidikan islam pada masa khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri,tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin al;khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab.

Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:

  1. Membaca dan menulis
  2. Membaca dan menghafal Al-Qur’an
  3. Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya

Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:

  1. Berenang
  2. Mengendarai unta
  3. Memanah
  4. Membaca dan menghapal syair-syair yang mudah dan peribahasa.

Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:

  1. Al-qur’an dan tafsirnya
  2. Hadits dan pengumpulannya
  3. Fiqh (tasyri’)

 

 

 

Pengertian Pendidikan

Kata“pendidikan”yangumum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “alama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa arabnya “tarbiyah wa ta’lim” sedangkan “pendidikan islam” dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah islamiyah”. Kata kerja rabba (mendidik) sudah di gunakan pada zaman nabi muhammad SAW.

Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “ menumbuhkan” kemampuan dasar manusia.

Jadi, Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan sseseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya, dengan kata lain pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi.

Definisi Pendidikan Islam Menurut Para Ahli

  1. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba : Pendidikan islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
  2. Menurut Musthafa Al-Ghulayaini: Pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air. Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan adanya titik persamaan yang secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut : Pendidikan Islamialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.

 

Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Bahasa

Al-Tarbiyah Kata tarbiyah berasal berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban[1] yang berarti mengasuh, memimpin, mengasuh (anak). Penjelasan atas kata Al-Tarbiyah ini lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut. rabba, yarubbu tarbiyatan yang mengandung arti memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Dengan menggunakan kata yang ketiga ini, meka terbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam kehidupannya.[2]Dengan demikian, pada kata Al-Tarbiyah tersebut mengandung cakupan tujuan pendidikan, yaitu menumbuhkan dan mengembangkan potensi; dan proses pendidikan, yaitu memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengaturnya.    Karena demikian luasnya pengertian Al-Tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan, seperti Naquib al-Attas yang tidak sependapat dengan pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata Al-Tarbiyah dengan arti pendidikan.  Menurutnya kata Al-Tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga menjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia, menurutnya tidak dapat dididik, karena benda-benda alam selain manusia itu tidak memliki persyaratan potensional seperti akal, pancaindera, hati nurani, insting, dan fitrah yang meungkinkan untuk dididik. Yang memiliki potensi-potendi akal, pancaindera, hati nurani insting dan fitrah itu hanya manusia. Untuk itu Naquib al-Attas lebih memiliki kata al-ta’dib (sebagaimana nanti akan dijelaskan) untuk arti penidikan., dan bukan kata Al-Tarbiyah.[3] 2.      Al-Ta’lim Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al-Ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan mengajar dan melatih[4]. Sementara itu Muhammad Rasyid Ridha mengartiakn al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[5]Sedangkan H.M Quraisy Shihab, ketika mengartikan kata yu’allimu sebagaimana terdapat pada surah al-Jumu’ah (62) ayat 2, dengan arti mengajar yang intinya tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.[6] Kata al-Ta’lim dalam al-Quran menunjukan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikmah, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, ilmu laduni (yang langsung dari tuhan), nama-nama atau simbol-simbol dan rumus-rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu yang terlarang seperti sihir. Ilmu-ilmu baik yang disampaikan melalui proses at-Talim tersebut diklakukan oleh Allah Ta’ala, malaikat, dan para Nabi. Sedagkan ilmu pengethuan yang berbahya diajarkan oleh setan. Kataal-Ta’lim dalam arti pendidikan sesungguhnya merupakan kata yang paling lebih dahulu digunakan dari pada kata al-Tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengjaran yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad n dirumah al-Arqom (daar al Arqom) di Mekah, dapat disebut sebagai majlis al-Ta’lim. Demikain pula kegiatan pendidikan Islam di Indonesia yang dilaksanakan oleh para dai dirumah, mushala, masjid, surau, langgar, atau tempat tertentu. pada mulanya merupakan kegiatan al-Ta’lim. Dengan memberikan data dan informasi tersebut, maka dengan jelas, kata Al-Ta’lim termasuk kata yang paling tua dan banyak digunakan dalam kegiatan nonformal dengan tekanan utama pada pemberian wawasan, pengetahuan atau informasi yang bersifat kognitif. Atas dasar ini, maka arti Al-Ta’lim lebih pas diartikanpengajaran daripada diartikan pendidikan. Namun, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, maka pengajaran juga termasuk pendidikan. 3.      At-Ta’dib Kata At-Ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang berarti pendidikan. Kata At-Ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab. Bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika.[7] Kata At-Ta’dib dalam arti pendidikan, sebagimana disinggung diatas, ialah kata yang dipilih oleh Naquib al Attas. Dalam hubungan ini, ia mengartikan At-Ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Melalui kata At-Ta’dib ini, al Ataas ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber dalam ajaran Agama yang bersumber padadiri manusia, sehingga menjadi dasar bagi terjadinya proses Islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan ini menurutnya perlu dilakukan dalam rangka membendung pengaruh materialisme, sekularisme, dan dikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat. [8] 4.      At-Tahdzib Kata At-Tahdzib secara harfiah berarti pendidikan akhlak, atau menyucikan diri dari perbuatan akhlak yang buruk, dan berarti pula terdidik atau terpelihara dengan baik, dan berarti pula yang beradab sopan. [9] Dari pengertian tersebut, tampak bahwa secarakeseluruhan kata At-Tahdzib terkait dengan perbaikan mental spiritual, moral dan akhlak, yaitu memperbaiki mental seseorang yang tidak sejalan dengan ajaran atau norma kehidupan menjadi sejalan dengan ajaran atau norma; memeperbaiki perilakunya agar menjadi baik dan terhormat, serta memperbaiki akhlak dan budi pekertinyaagar menjadi berakhlak mulia. Berbagai kegiatan tersebut termasuk bidang kegiatan pendidikan. Itulah sebabnya, kata At-Tahdzib juga berarti pendidikan. 5.      Al- Wa’dz atau al-Mau’idzoh Al- Wa’dz berasal dari kata wa’adza yang berarti mengajar, kata hati, suara hati nurani, memperingatkan atau mengingatkan, mendesak dan memperingatkan.[10]Inti Al- Wa’dz atau al-Mau’idzoh adalah pendidikan dengan cara memberikan penyadaran dan pencerahan batin, agar timbul kesadaran untuk menjadi orang yang baik. 6.      Ar-Riyadhah Ar-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti penjinakan, latihan, melatih.[11] Dalam pendidikan, kata Ar-Riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dan akhlak mulia.Kata Ar-Riyadhah selanjutnya banyak digunakan dikalangan para ahli tasawuf dan diartikan agak berbeda dengan arti yang digunakan para ahli pendidikan dikalangan para ahli tasawuf Ar-Riyadhah diartikan latihan spiritual rohaniah dengan cara khalwat dan uzlah (menyepi dan menyendiri) disertai perasaan batin yang takwa. 7.      Al-Tazkiyah Al-Tazkiyah berasal dari kata zakka, yuzakki, tazkiyyatan yang berarti pemurnian atau pensucian.[12] Kata Al-Tazkiyah atau yuzakki telah digunakan oleh para ahli dalam hubunganya dengan mensucikan atau pembersihan jiwa seseorang dari sifat-sifat yang buruk (al-Takhali), dan mengisinya dengan akhlak yang baik (al-Tahali), sehingga melahirkan manusia yang memiliki keahlian dan akhlak yang terpuji. Dalam hubungan ini, Ibnu Sina dan al Ghazali menggunakan istilah Al-TazkiyahAlannafs (menyucikan diri) dalam arti membersihkan rohani dari sifat-sifat yang tercela.[13] Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa kata Al-Tazkiyah ternyata juga digunakan untuk arti pendidikan yang bersifat pembinaan mental spiritual dan akhlak mulia. 8. Al-Talqin    Kata al-Talqin berasal dari laqqana yulaqqinu talqinan yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan perkataan.[14]    Abuddin Nata menyebutkanbahwa kata tersebut dijumpai dalam hadits sebagai berikut: “ajarilah (orang yang hampir neminggal dunia) kalimat laa ila haillallah (tiada tuhan selain Allah ).”Perintah mengajarkan kalimat tauhid ( lailaha illallah ) sebagaimanatersebut selalu dipraktikkan umat Islam pada setiap kali menyaksikan keluarga, teman, tetangga atau lainya yang sesama muslim, pada saat mereka menjelang datangnya ajal atau sakaratul maut.Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-Talqin digunakan pula untuk arti pendidikan dan pengajaran.[15] 9. Al-Tadris    Kata al-Tadris berasal dari kata darrasa yudarrisu tadrisan, yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan.[16]Selain itu, kata al-Tadris berarti Baqa’ atsaruha wa baqa’ al Atsar yaqtadli inmihauhu fi nafsihi, yang artinya: sesuatu yang pengaruhnya membekas, menghendaki adanya perubahan pada diri seseorang. Intinya, kata al-Tadris berarti pengajaran, yaknimenyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang selanjutnya memberi pengaruh dan menimbulkan perubahan pada dirinya.[17] Kata al-Tadris, termasuk yang sudah banyak digunakan para ahli pendidikan, bahkan pada perguruan tinggi Islam. kata al-Tadris digunakan untuk nomenklatur jurusan atau program studi yang mempelajari ilmu-ilmu umum, seperti matematika, biologi, ilmu pengetahuan sosial, ilmu budaya dan dasar, dan fisika. 10. al-Tafaqquh Kata al-Tafaqquh berasal dari kata tafaqqoha yatafaqqohu tafaqquhan, yang berartimengerti dan memahami[18]. Kataal-Tafaqquh selanjutnya lebih digunakan untuk menunjukan pada kegiatan pendidikan dan pengajaran ilmu agama Islam. masyarakat yang mendalami ilmu agama di pesantren-pesatren di Indonesia misalnya, sering menyebut sedang melakukan al-Tafaqquhfi al ddin, yakni mendalami ilmu agama, sehingga ahli ilmu agama yang mumpuni yang selanjutnya disebut ulama, kiai, ajengan, buya, syaikh, dan sebagianya. 11. al-Tabyin Kata al-Tabyin berasal dari kata bayyana yubayyinu tabyinan, yang mengandung arti mengemukakan, mempertunjukan,berarti pula menyatakan atau menerangkan.[19] Di kalangan para ahli, belum ada yang menggunakan Al-Tabyin sebagai salah satu arti pendidikan. Namun dengan alasan tersebut Abuddin Nata memberanikan dirinya untuk memasukkan kata Al-Tabyin sebagai salah satu arti pendidikan. Di dalam dalam al Quran, kosakata at-Tabyin  dengan derifasinyadisebutkan sebanyak 75 kali, diantaranya: “Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia supaya mereka bertakwa”(QS. al Baqarah [2] : 187) major-bidi;”>Dari penjelasan ayat tersebut terlihat, bahwapada umumnya, kata al-Tabyin diartikan menerangkan atau menjelaskan tentang ayat-ayat Allah Ta’ala sebagaimana terdapat di dalam al Quran dan kitab-kitab lainnya yang diwahyukan Tuhan. Penerangan dan penjelasan tersebut dilakukan oleh para nabi atas perintah Tuhan. Dengan demikian para nabi bertugas sebagai al Mubayyin, yaitu orang yang menjelaskan atau orang yang menerangkan. 12. al-Tadzkirah    Kata al-Tadzkirah berasal dari kata dzakkaraa yudzakkiru tadzkirotan, yang berarti peringatan, mengingatkan kembali.[20]Selain itu, juga berarti sesuatu yang perlu diperingatkan yang sifatnya lebih umum dari pada indikasi (addilalah) atau tanda-tanda ( al imarah ). Dari beberapa arti kata altadzkirah tersebut ternyata ada arti yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran, yaitu mengingatkan kembali atau memberikan peringatan, karenadidalam kegiatan pendidikan dan pengajaran terdapat kegiatan yang bertujuan mengingatkan peserta didik agar memahami sesuatu atau mengingatkan agar tidak terjerumus kedalam perbuatan yang keji. 13. al-Irsyad Kata al-Irsyad dapat mengandung arti menunjukan, bimbingan, melakukan sesuatu, menunjukan jalan.[21]Dari pengertian al-Irsyad ini, terdapat pengertian yang berhubungan dengan pengajaran dan pendidikan, yaitu bimbingan, pengarahan, pemberian informasi, pemberitahuan, nasihat, dan bimbingan spiritual. Dengan demikian kata al-Irsyad layak dipertimbangkan untuk dimasukkan kedalam arti kata pendidikan dan pengajaran.[22]

 

Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Istilah[23] Istilah atau terminologi pada dasarnya merupakan kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing terhadap pengertian tentang sesuatu. Dengan demikian dalam istilah tersebut terdapat visi, misi, tujuan yang diinginkan oleh yang merumuskannya, sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, kecenderungan, kepentingan, kesenangan dan sebagainya. Berikut pengertian menurut para ahli; Menurut Ahmad Fuad al Ahwaniy : “Pendidikan adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh dari pandangan hidup tiap masyarakat. Pendidikan senantiasa sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau pendidikan itu pada hakikatnya mengaktualisasikan falsafah dalam kehidupan nyata.” Menurut Ali Khalil Abul Ainain : “Pendidikan adalah program yang bersifat kemasyarakatan, oleh karena itu, setiap falsafah yang dianut oleh suatu masyarakat berbeda dengan falsafah yang dianut masyarakat lain sesuai dengan karakternya, serta kekuatan peradaban yang memengaruhinya yang dihubungkan dengan upaya menegakkan spiritual dan falsafah yang dipilih dan disetujui untuk memperoleh kenyamanan hidupnya. Makna dari ungkapan tersebut ialah bahwa tujuan pendidikan diambil dari tujuan masyarakat, dan perumusan operasionalnya ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan disekitar tujuan pendidikan tersebut terdapat atmosfer falsafah hidupnya. Dari keadaan yang demikian itu, maka falsafah pendidikan yang terdapat dalam suatu masyarakat lainnya, yang disebabkan perbedaan sudut pandang masyarakat, serta pandangan hidup yang berhubungan dengan sudut pandang tersebut.                Menurut Muhammad Athiyah al Abrasyi : “Pendidikan Islam tidak seluruhnya bersifat keagamaan, akhlak, dan spiritual, namun tujuan ini merupakan landasan bagi tercapainya tujuan yang bermanfaat. Dalam asas pendidikan Islam tidak terdapat pandangan yang bersifat materialistis, namun pendidikan Islam memandang materi, atau usaha mencari rezeki sebagai masalah temporer dalam kehidupan, dan bukan ditujukan untuk mendapatkan materi semata-mata, melainkan untuk mendapatkan manfaat yang seimbang. Di dalam pemikiraan al Farabi, Ibnu Sina, Ikhwanul as Shafa terdapat pemikiran, bahwa kesempurnaan seseorang tidak akan tercapai, kecuali dengan mensinergikan antara agama dan ilmu.” Menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke-2, pada tahun 1980 di Islamabad: “Pendidikan harus ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan personalitas manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikain pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia pada seluruh aspeknya ; spiritual, intelektual, daya imajinasi, fisik, keilmuan dan bahasa, baik secara individual maupun kelompok serta dorongan seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. tujuan akhir pendidikan diarahkan pada upaya merealisasikan pengabdian manusi kepada Allah ta’ala, baik pada tingkat individual, maupun masyarakat dan kemanusiaan secara luas.”

 

Tiga Objek Pendidikan Dalam Al-Quran

Al-Quran membagi objek pendidikan menjadi tiga objek. Yang pertama adalah objek individual. Kedua adalah objek keluarga dan orang-orang dekat, dan ketiga adalah objek masyarakat.

Objek individual.  Maksud dari objek individual adalah bahwa objek pendidikan tersebut adalah dirinya sendiri. Yakni seseorang mendakwahi dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. sebelum Allah menurunkan wahyu kepada beliau saw. Allah memberikan beliau semacam wahyu untuk menyendiri di dalam gua Hira. Tak lain tujuannya adalah untuk mendakwahi diri sendiri dengan mentadaburi alam dan melihat keadaan sekitar berupa masyarakat Makah yang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Objek dakwah individual inilah yang Allah singgung dalam Al-Quran surat at-Tahrim ayat keenam. Allah berfirman yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (At-Tahrim: 6)

Dalam ayat yang lainnya, bahkan Allah memperingatkan orang yang gemar berdakwah kepada orang lain, tapi dirinya sendiri tidak ia dakwahi, dalam artian dia tidak melaksanakan apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaf: 3)

Ayat ketiga dari surat ash-shaf tersebut memberikan kita sinyal bahwa individu kita perlu kita perbaiki, maka dari itulah objek pertama adalah individu bukan yang lainnya. Di samping itu, ketika kita memberikan sebuah pengajaran kepada orang lain, atau orang dekat semisal anak sendiri, namun ternyata apa yang kita perintahkan kepada orang lain tersebut tidak kita kerjakan, kemudian apa yang akan mereka katakan tentang diri kita? pastinya adalah cemoohan.

Selanjutnya yang kedua adalah objek keluarga dan orang-orang yang dekat dengan kita. Ini adalah sasaran kedua setelah individu. Sebagaimana firman Allah di atas, Allah menyebutkan “Jagalah dirimu” setelah itu Allah melanjutkan “dan keluargamu”. Ibarat penjagaan polisi dari terorisme, individu ada di ring pertama dan keluarga ada di ring kedua.

Dakwa seseorang kepada keluarga dekatnya dan juga kepada orang-orang yang hidup bersamanya, mulai dari teman dan kolega, merupakan dakwah yang dilakukan oleh para nabi termasuk Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw. ketika selesai mendapat perintah untuk berdakwah, beliau tidak langsung menuju ke Ka’bah di mana Ka’bah adalah tempat berkumpulnya masyarakat Makah waktu itu, tetapi beliau berdakwah kepada keluarganya terlebih dahulu. Hal ini juga atas petunjuk dari Allah langsung sebagaimana firmannya:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’arâ’: 214)

Sebab itulah mengapa orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita adalah Khadijah, siapa beliau? Istri Nabi. Dari golongan anak kecil Ali bin Abi Thalib, siapa beliau? Sepupu sekaligus anak asuh Nabi. Dari kalangan orang dewasa Abu Bakar, siapa beliau? kolega bisnis Nabi sekaligus sahabat karibnya.

Lihatlah, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah keluarga dan orang-orang dekat beliau. Mengapa? karena objek tarbiyah beliau memang orang-orang terdekat pada mulanya.

Kita juga bisa melihat bagaimana Nabi Ibrahim mendidik Ismail. Dari hasil didikan beliau, muncul sosok Ismail yang sangat taat dengan perintah Allah juga perintah bapaknya, meskipun lehernya harus dipertaruhkan. Lihatlah juga bagaimana Nabi Ya’kub mendidik Yusuf. Hasil didikan beliau memunculkan sosok Yusuf yang pemurah, penyabar, dan pemaaf. Padahal jika mau, Yusuf bisa saja membalas kelakuan buruk kakak-kakaknya ketika beliau menjadi menteri ekonomi di Mesir kala musim paceklik datang.

Selanjutnya, objek ketiga berupa masyarakat. Tentu Islam hadir tidak hanya untuk menshalihkan individu tertentu dan atau keluarga tertentu, melainkan untuk menshalihkan semua orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Secara tegas Allah memperingatkan kepada kita agar kita tidak tiga egois dengan keadaan orang lain. Allah berfirman yang artinya:

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak ditimpakan hanya untuk orang-orang yang zhalim saja dan ketahuilah bahwasanya azab Allah amatlah keras.”

Ayat ini memberikan indikasi bahwa kita jangan merasa aman ketika kita sudah shalih. Padahal di samping kanan dan kiri kita masih  banyak orang yang berbuat kezhaliman. Maka dari sini kita paham bahwa objek ketiga dari pendidikan adalah masyarakat umum.

Namun, apakah seseorang harus shalih individunya dahulu sebelum mendidik keluarga dan masyarakat? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah sikap tawazun atau keseimbangan antara menshalihkan diri sendiri dengan menshalihkan keluarga dan menshalihkan masyarakat. Sebab itulah Rasulullah menyampaikan, “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.” Artinya apa yang kita sampaikan adalah apa yang kita ketahui.

Rasulullah dalam mendidik masyarakat pun tidak menunggu keluarganya shalih semua. Kita lihat paman beliau, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil, keduanya adalah keluarga dekat Nabi saw. namun mereka tetap ingkar dan Rasul pun tetap melanjutkan tugasnya mendidik masyarakat Makah.

 

Pelaksanaan Pendidikan Islam Di Mekkah

Materi Pendidikan Islam Di Mekkah Islam yang pertama kali lahir dari tanah Arab, dan tantangan pengajaran tentang Islam pertama kali, bermuara di Mekkah. Mekkah yang sebelum kedatangan Islam, sangat jauh dari nilai-nilai aqidah monotheisme (tauhid) sebagaimana yang sudah di usung oleh junjungan Nabi-nabi sebelumnya. Sebagai implikasinya, Rasulullah dalam penguatan materi pendidikan di periode Mekkah sangat mengutamakan perbaikan aqidah dan tauhid.

Secara umum, muatan materi pendidikan pada Islam periode Mekkah yang diberikan oleh Rasulullah di bagi empat bagian, antara lain, yaitu : Pertama, pendidikan tauhid, materi ini lebih difokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyyah. Secara teori, inti sari ajaran ini termuat dalam kandungan surat al-Fatihah:1-7, dan al-Ikhlas: 1-5. Selain itu, pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid juga yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru pengertian tauhid yang di ajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan masyarakat jahiliah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa kekerasan.

Kedua, materi pengajaran al-Qur`an. Dalam materi ini dirinci kepada: (1) Materi baca tulis (dalam dunia sekarang dikenal imla` dan iqra`), (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur`an, dan (3) Materi pemahaman al-Qur`an (dalam dunia sekarang dikenal fahmi al-Qur`an atau tafsir al-Qur`an (Yunus: 11-12).

Ketiga, pendidikan amal dan ibadah, dimana berupa perintah sholat yang awal mulanya, Nabi sholat bersama sahabat-sahabatnya secara sembunyi-sembunyi. Namun setelah Umar ibn Khattab masuk Islam beliau melakukannya secara terang-terangan. Pada mulanya sholat itu belum dilakukan sebanyak lima kali sehari semalam kemudian setelah Nabi Isra’ dan Mi’raj barulah diwajibkan untuk sholat lima waktu. Selain itu, mengajarkan seputar zakat, yakni semasa di Mekkah konsep zakat diberikan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim serta membelanjakan harta untuk jalan kebaikan.

Keempat, pendidikan akhlaq, di mana Nabi semasa di Mekkah sangat menekankan kepribadian yang baik (akhlaqul mahmudah), diantaranya :

  1. Adil yang mutlak, meskipun terhadap keluarga atau diri sendiri.
  2. Menepati janji, tepat pada waktunya.
  3. Takut kepada Allah semata dan tiada takut kepada berhala.
  4. Berbuat kebaikan kepada kedua orangtua, dan sebagainya.

Pada Islam Mekkah materi pengajaran al-Quran yang diberikan hanya berkisar pada ayat-ayat al-Quran pada surah-surah yang diturunkan ketika Nabi sebelum Hijrah ke Madinah. Surah yang diturun di Mekkah inilah yang kemudian dikenal dengan nama surah Makkiyah.

Metode Pendidikan Islam Di Mekkah Pendidikan Islam adalah rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup Untuk mencapai pada pengertian pendidikan tersebut tentunya seorang pendidik memerlukan metode-metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan. Begitu juga dengan Rasulullah dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Adapun metode pendidikan yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya, antara lain :

  1. Metode ceramah.
  2. Diskusi / tanya jawab.
  3. Metode perumpamaan.
  4. Metode kisah.
  5. Metode pembiasaan.
  6. Metode hafalan.

Adapun yang menjadi salah satu faktor penting metode pendidikan Islam, adanya kejayaan pendidikan Islam yang dijalankan Rasulullah Saw. Faktor tersebut ialah “karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah Saw adalah al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an), artinya pada diri Rasulullah SAW tercermin semua ajaran al-Qur’an dalam bentuk nyata. Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya. Oleh karena itu para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah Saw.

           Kurikulum Pendidikan Islam periode Mekkah Kurikulum merupakan pedoman ataupun dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Pada masa Rasulullah kurikulum yang digunakan adalah Al Quran yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami pada saat itu (Nizar, 2007:36). Al-Qur`an pu merupakan sentral kurikulum saat itu, yang mana kurikulum saat itu masih sering di definisikan dengan materi ajar. Maka, sebagai langkah awal, muatan materinya berfokus pada nilai-nilai tauhid dalam menguatkan militansi untuk beragama Islam. Philip K Hitti pun menambahkan, bahwasanya materi pelajaran atau kurikulum sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook (Susari, 2004: 33).

Lembaga Pendidikan Islam Pada Islam Mekkah Dalam catatan sejarah pendidikan Islam di periode Mekkah, menyebutkan ada dua tempat yang menjadi lembaga pendidikan Islam pada periode Mekkah, di antaranya :

  1. Rumah Arqam ibn Arqam adalah merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah Saw untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
  2. Kuttab adalah merupakan tempat pendidikan yang paling tua, bahkan ada yang mengatakan Kuttab lahir sebelum datangnya Islam. Pendidikan di Kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Quran dan memahami hukum-hukum Islam. Philip K. Hitti menambahkan, bahwasanya materi pelajaran di Kuttab sangat berorientasi kepada al-Qur`an sebagai texbook. Kuttab dalam modernisasi sekarang bisa disamakan dengan madrasah ibtidaiyyah. Adapun waktu belajar di Kuttab, waktu pagi hingga dhuha mempelajari al-Qur`an, dhuha hingga siang mempelajari cara menulis, sedang dhuha hingga siang, mempelajari gramatikal Arab, matematika, dan sejarah. Dua tempat pendidikan tersebut, menjadi dasar perkembangan tempat-tempat pendidikan yang semakin berkembangnya zaman, adanya inovasi, khususnya pada bangunan tempat pendidikan, guna mengkondusifkan sebuah pengajaran

Pelaksanaan Pendidikan Islam Di Madinah

Kedatangan Nabi Muhammad Saw bersama kaum muslimin Makkah, disambut oleh penduduk madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Maka, islam mendapatkan lingkungan baru yang bebas dari ancaman para penguasa Quraisy Makkah.

Tetapi ternyata lingkungan yang baru tersebut bukanlah lingkungan yang betul-betul baik, yang tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan. Dimadinah, Nabi Muhammad SAW. menghadapi kenyataan-kenyataan yang menimbulkan permasalahan baru. Beliau menghadapi kenyataan bahwa umatnya terdiri dari dua kelompok yang berbeda latar kehidupannya, yaitu (1). Mereka yang berasal dari makkah yang di sebut dengan nama kaum muhajirin, dan (2).Mereka yang merupakan penduduk asli madinah, yang kemudian disebut dengan kaum Ansor.

 

Kenyataan lain yang yang dihadapi Nabi Muhammad SAW. adalah masyarakat kaum muslimin yang baru di madinah tersebut, berhadapan atau tinggal bersama dengan masyarakat suku bangsa Arab lainnya yang belum masuk islam dan masyarakat kaum yahudi yang memang sudah menjadi penduduk madinah. Dan ancaman dari kaum Quraisy makkah untuk sewaktu-waktu datang menyerbu dan menghancurkan kaum muslimin yang masih dalam keadaan lemah itu merupakan kenyataan lainnya yang tidak dapat diabaikan.

Melihat kenyataan tersebut, beliau mulai mengatur dan menyusun segenap potensi yang ada dalam lingkungannya, memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan potensi dan kekuatan yang ada, dalam rangka menyusun suatu masyarakat baru yang terus berkembang, yang mampu menghadapi segenap tantangan dan rintangan yang berasal dari luar dengan kekuatan sendiri.

Ciri pokok pembinaan pendidikan islam dapat dikatakan sebagai pendidikan social dan politik. Pembinaan pendidikan di madinah pada hakikatnya adalah merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan social dan politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga akhirnya tingkah laku social politiknya merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.

Pendidikan sosial dan politik yang di laksanakan oleh nabi Muhammad SAW kepada umatnya berlangsung terus atas bimbingan wahyu tuhan. Dan wahyu tuhan yang turun pada periode ini adalah dalam rangka memberikan petunjuk bagi Nabi Muhammad SAW dalam memberikan keputusan-keputusan dan mengambil kebijaksanaan untuk membina umat dan masyarakat islam.

Pembinaan kesatuan dan persatuan social yang menimbulkan solidaritas social yang semakin tinggi itu dibarengi dengan pembinaan kearah satu kesatuan politik sekaligus. Nabi Muhammad SAW berusaha membawa umatnya kedalam suatu kehidupan yang mandiri, yang tidak menyandarkan diri kepada kekuatan dari luar. Mereka berusaha untuk mengatir diri mereka sendiri, sehingga merupakan kekuatan politik yang di akui oleh dan hidup bersama dengan masyarakat sekitarnya, tanpa adanya campur tangan dari luar. Dalam rangka pembinaan kesatuan politik tersebut pertama-tama nabi Muhammad membuat perjanjian kerjasama dengan orang-orang yahudi di Madinah.perjanjian tersebut sekaligus berarti bahwa masyarakat baru yang dibentuknya, telah mendapatkan pengakuan dari pihak yahudi yang memang sudahlama merupakan satu kesatuan politik yang berpengaruh di Madinah.

Kurikulum pendidikan islam: Kurikulum pendidikan islam pada periode Rasulullah baik di mekkah maupun Madinah adalah al-qur’an yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang dialami umat islam pada saat itu, karena itu dalam praktiknya tidak saja logis dan rasional, tetapi juga fitrah dan pragmatis. Hasil cara yang demikian dapat di lihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya.

Materi Pendidikan Islam Di Madinah: Pada fase madinah materi pendidikan yang di berikan cakupnya lebih kompleks di bandingkan dengan materi pendidikan fase makkah. Diantara pelaksanaan pendidikan islam di madinah ialah:

  1. Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin.

Dalam melaksanakan pendidikan ukhuwah ini, nabi Muhammad Saw. Bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada msa itu. Untuk mempersatukan keluarga itu nabi Muhammad berusaha untuk mengikatnya menjadi satu kesatuan yang terpadu. Mereka di persaudarakan karena Allah bukan karena yang lain-lain. Sesuai dengan isi konsitusi Madinah pula, bahwa antara orang yang beriman, tidak boleh membiarkan saudaranya menanggung beban hidup dan utang yang berat di sesame meraka. Antara orang beriman satu dengan yang lainnya haruslah saling membantu dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka harus bekerja sama dalam mendatangkan kebaikan, mengurus kepentingan bersama, dan menolak kejahatan atau kemudaratan atau kejahatan yang akan menimpa.

  1. Pendidikan kesejahteraan sosial

Terjaminnya kesejahteraan social, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap orang harus bekerja mencari nafkah tetapi problem yang dihadapi masyarakat baru di Madinah dalam hal itu adalah masalah pekerjaan, terutama bagi kaum muhajiri, sedangkan kaum anshor sudah mempunyai pekerjaan sebagai petani dan memiliki sebidang tanah. Dan perdagangan, pada umumnya di kusai oleh orang-orang yahudi.

  1. Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat

Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri, dan anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan system kekeluargaan kekerabatan baru, yang berdasarkan kepada Allah. Dan berdasarka pada pengakuan hak-hak individu, hak-hak keluarga dan kemurnian keturunannya dalam kehidupan kekerabatan dan kemasyarakatan yang adil dan seimbang.

  1. Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan)

Dakwah islam Masyarakat kaum muslim merupakan satu state(negara) dibawah bimbingan nabi muhammad saw yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap. Oleh karena itu, setelah masyarakat kaum muslim di madinah berdiri dan berdaulat, usaha Nabi Muhammad SAW berikutnya adalah memperluas pengakuan kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah sekitar nadinah untuk mengakui konstitusi madinah. Ajran tersebut di sampaikan dengan baik-baik dan bijaksana. Untuk mereka yang tidak mau mengikuti perjanjian damai ada dua kemungkinan tindakan Nabi Muhammad SAW yaitu:

  1. Kalau mereka tidak menyatakan permusuhan atau tidak menyerang kaum muslim atau kaum kabilah yang telah mengikat perjanjian dengan kaum muslim, maka mereka di biarkan saja.
  2. Tetapi kalau mereka menyatakan permusuhan dan menyerang kaum muslim atau menyerang mereka yang telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslim, maka harus di tundukkan di perangi, sehingga mereka menyatakan tunduk dan mengakui kedaulatan kaum muslim.

Untuk mengatasi masalah pekerjaan tersebut, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada kaum Muhajirin yang telah di persaudarakan dengan kaum Ansor agar, mereka bekerja bersama dengan saudara-saudarany tersebut.

Permasalahan sosial berikutnya yang perlu mendapatkan pengaturan lebih lanjut adalah yang berhubungan dengan pengaturan dan penggunaan harta kekayaan. Dari usaha bersama di bidang perdagangan dan pertanian antara akum muhajirin dengan kaum ansor di madinah, mulailah terkumpul harta kekayaan. Sebagian mereka ada yang menjadi kaya, tetapi sebagian ada yang masih dalam keadaan kurang.

Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW kemudian mengatur bagaimana penggunaan harta kekayaan tersebut, agar tidak menumpuk pada orang-orang yang kaya dan agar mereka yang mempunyai tugas khusus juga dapat tepenuhi kebutuhabn hidupnya. Pertama-tama kebiasaan menumpuk harta kekayaan dengan jalan riba dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Ia hanya memperbolehkan jual beli. Kmudian harta kekayaan sampai batas tertentu diwajibkan untuk di keluarkan zakatnya, yaitu seperempat puluh dari harta kekayaan dan harta perdagangan. Demikian halnya dengan hasil pertanian dan peternakan.

 

 

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN SISTEM PEMBELAJARAN

Lembaga pendidikan islam pada fase Mekkah ada dua macam tempat yaitu:

{1}.     Rumah Arqam Ibn Arqam merupakan lembaga pendidikan yang pertama atau madrasah yang pertama sekali dalam islam, utuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran islam adapun yang mengajar dalam lembaga tersebut adalah Rasulullah SAW sendiri.

{2}.     Kuttab. Pendidikan di kuttab tidak sama dengan pendidikan yang diadakan di rumah Arqam Ibn Arqam, pendidikan di Kuttab pada awalnya terfokus kepada materi baca tulis sastra, syair arab, dan pembelajaran berhitung namun setelah datang islam materinya di tambah dengan materi baca tulis al-qur’an dan memahami hukum-hukum islam. Adapun yang mengajar di kuttab pada era pra awal islam adalah orang-orang non-muslim. Dalam sejarah pendidikan islam, istilah Kuttab telah dikenal di kalangan bangsa arab pra islam. Ahmad Syalaby mengatakan bahwa Kuttab sebagai lembaga pendidikan terbagi dua yakni :

Dalam sejarah pendidikan islam, istilah Kuttab telah dikenal di kalangan bangsa arab pra islam. Ahmad Syalaby mengatakan bahwa Kuttab sebagai lembaga pendidikan terbagi dua yakni:

  1. Kuttab berfungsi mengajarkan baca tulis dengan teks dasar pusi-puisi arab, dan sebagian besar gurunya adalah nonmuslim. Pada mulanya pendidikan kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru atau di pekarangan sekitar masjid. Materi yang di ajarkan dalam pelajaran baca tulis ini adalah puisi atau pepatah-pepatah Arab yang mengandung nilai-nilai tradisi yang baik. Adapun penggunaan Al-Quran sebagai teks dalam kuttab baru terjadi kemudian, ketika jumlah kaum muslimin yang menguasai al-Quran telah banyak, dan terutama setelah kegiatan kodifikasi pada masa kekhalifahan ‘Usman ibn Affan’ . kebanyakan guru kuttab pada masa awal islam adalah non muslim, sebab muslim yang dapat menulis yang mana jumlahnya masih sangat sedikit sibuk dengan pencatatan wahyu.

 

Senada dengan hal di atas, Samsul Nizar menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh dua faktor: (1) menjaga kesucian al-quran, agar tidak sampai terkesan di permainkan para siswa dengan menulis dan menghapusnya. Hal ini di sebabkan para siswa di ajarkan tulis menulis di atas batu tulis, yang mana acap kali di hapus. (2) pada masa awal islam pengikut nabi yang bisa baca tulis hanya sedikit, kebanyakan mereka bertugas sebagai juru tulis nabi. Oleh sebab itu kebanyakan guru baca tulis adalah kaum Zimmi dan para tawanan perang, seperti tawanan badar. Untuk itu tidak mungkin mereka memiliki kewenangan untuk mengajarkan al-quran kepada para siswa.

  1. Sebagai pengajaran al-quran dan dasar-dasar agama islam. Pengajaran teks al-alquran pada jenis kuttab yang kedua ini, setelah qurra dan huffiazh ( ahli bacaan dan penghafal alquran telah banyak ). Guru yang mengajarkan adalah dari umat islam sendiri. Pada jenis intuisi yang kedua ini merupakan lanjutan dari kuttab yang pertama yang mana telah di ajarkan kepada siswa kemampuan baca tulis. Pada jenis yang kedua ini siswa akan di ajari pemahaman al-quran, dasar-dasar agama islam, juga di ajarkan ilmu gramatika bahasa arab dan aritmetika. Sementara kuttab yang didirikan oleh orang-orang yang lebih mapan kehidupanya , materi tambahanya adalah menunggang kuda dan berenang.

Pada fase Mekkah Rasulullah beserta sahabat menghadapi sejumlah tantangan dan ancaman dari kaum Quraisy. Menurut Ahmad Salaby, sebagaimana yang di kutip soekarno, bahwa faktor-faktor yang mendorong kaum Quraisy menentang seruan islam ialah sebagai berikut: (1) persaingan kekuasaan (persamaan hak antara kaum bangsawan dan kaum kasta hamba sahaya yang dilakukan oleh Rasulullah. (2) takut bangkit. Kaum Quraisy tidak dapat menerima agama islam yang mengajarkan bahwa manusia akan hidup lagi setelah mati. (3) taklid kepada nenek moyang secara membabi buta dan mengikuti langkah-langkah mereka dalam soal-soal peribadatan dan pergaulan adalah suatu kebiasaan yang telah berurat berakar pada bangsa Arab. (4) memperniagakan patung, agama islam melarang menyembah, memahat, menjual patung.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah setelah menghadapi dan mendengar ancaman tersebut. Ketika Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Madinah , salah satu program pertamanya adalah membangun sebuah masjid.

Dalam sejarah islam, masjid yang pertama kali di bangun Nabi adalah Masjid At-Taqwa di Quba pada jarak kurang lebih 2 mil dari kota Madinah. Rasulullah membangun sebelah Utara Masjid Madinah dan Masjid Al-Haram yang di sebut al-suffah, untuk tempat tinggal orang-orang fakir miskin yang tekun menuntut ilmu.mereka di kenal dengan “ahli suffah”.

Nakoesteen, sebagai mana yang di kutib Hasan Asari mengatakan bahwa pendidikan islam yang berlangsung di masjid adalah pendidikan yang unik karena memakai system halaqah (lingkaran). Sang syekh biasanya duduk di dekat dinding atau pilar masjid, sementara siswanya duduk di depanya membentuk lingkaran dan lutut para siswa saling bersentuhan. Kebiasaan dalam halaqah adalah bahwa murid yang lebih tinggi pengetahuanya akan duduk di sekitar syekh, murid yang level pengetahuanya lebih rendah dengan sendirinya akan duduk lebih jauh, sementara berjuang belajar keras agar dapat mengubah posisinya dalam konfigurasi halaqahnya. Halaqah biasanya terdiri dari 20 orang siswa. Metode diskusi dan dialog kebanyakan di pakai dalam berbagai halaqah, seperti dekte kemudian dilanjutkan dengan penjelasan oleh syekh. Dan menjelang akhir kelas waktu akan di mafaatkan oleh syekh untuk evaluasi bisa berbentuk Tanya jawab, terkadang syekh juga memerintahkan untuk memeriksa catatanya, mengoreksinya lagi, dan menambah seperlunya. Kemajuan halaqah ini tergantung pada sebuah kemampuan seorang syekh dalam mendidik. Biasanya apabila halaqah telah maju, maka akan banyak di kunjungi oleh peserta didik dari berbagai penjuru.

 

MATERI DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM.

Pertama materi pendidikan tauhid, materi ini lebih di fokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyrakat jahiliyah. Secara  teori intisari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surah Al-fatihah ayat 1-7 dan surah Al-ikhlas ayat 1-5. Secara praktis pendidikan tauhid diberikan melalui cara-cara yang bijaksana, menuntun akan pemikiran dengan mengajak ummatnya untuk membaca, memerhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran Allah dan diri manusia sendiri. dan kemudian mausia mengajarkan  cara bagaimana mengaplikasikan pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah langsung mejadi contoh bagi umatnya. Hasilnya, kebiasan masyarakat Arab yang melalui perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapanBismillahirrahmanirrahim. Kebiasan menyembah berhala, diganti dengan mengagungkan dan menyembah Allah SWT.

Kedua, materi pengajaran Al-qur’an. Materi ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Materi baca tulis Al-qur’an. Untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’ . materi ini diharapkan agar kebiasaan orang arab yang sering membaca syair-syair indah, diganti dengan membaca al-qur’an sebagai nilai sastra yang lebih tinggi.
  2.                Materi menghafal ayat-ayat Al-qur’an. Yang kemudian saat hari disebut dengan menghafalkan ayat-ayat suci Al-qur’an.
  3.                materi pemahaman Al-qur’an, saat ini disebut dengan materi fahmi Al-qur’an. Tujuannya ialah untuk meluruskan pola pikir umat islam yang dipengaruhi pola pikir jahiliah.

 

Mahmud Yunus mengklasifikasikan materi pendidikan kepada dua macam yaitu, materi pendidikan yang diberikan di mekkah dan materi yang diberikan di madinah.

Pada fase Makkah terdapat tiga macam intisari materi pelajaran, yakni:

  1. Pendidikan keimanan,

Materi keimanan yang menjadi pokok pertama adalah iman kepada Allah tuhan yang maha Esa, beriman bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rosul Allah, di wahyukan kepada al Quran sebagai petunjuk dan pengajaran bagi seluruh umat manusia.

  1. Pendidikan Ibadah.

Amal ibadah yang di perintahkan di Mekkah ialah sholat, sebagai pernyataan mengabdi kepada Allah, ungkapan syukur, membersihkan jiwa, dan menghubungkan hati kepada Allah.

  1. Pendidikan Akhlak.

Nabi menganjurkan kepada penduduk Mekkah yang telah masuk islam untuk melaksanakan akhlak yang baik, seperti adil, menepati janji, jujur, pemaaf, tawakal, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah, tolong-menolong, berbakti kepada orang tua, memberi makan orang miskin, dan musafir serta meninggalkan akhlak yang buruk.

 

Intisari pendidikan agama yang diterapkan Nabi di Madinah dapat di klasifikasikan sebagai berikut :

 

  1. Pendidikan Keimanan.

Keimanan di perkuat dengan keterangan-keterangan yang di bacakan oleh Nabi dari ayat-ayat al-Quran serta sabda beliau sendiri.

  1. Pendidikan Ibadah.

Untuk ibadah shalat di samping sholat lima waktu yang telah di sampaikan nabi di mekkah, juga di perintahkan untuk sholat jumat sebagai ganti zuhur, disamping itu juga sholat sunah seperti sholat idul fitri dan idul adha . sholat di anjurkan tepat waktu, sehingga ia menjadi tiang agama. Ibadah puasa, ibadah Haji, ibadah Zakat,

  1. Pendidikan Ahklak.

Adab masuk rumah, adab dalam bercakap-cakap, bertetangga, bergaul dalam masyarakat dll.

  1. Pendidikan Kesehatan (jasmani)

Pendidikan kesehatan dapat dilihat dari dalam amal ibadah yang dilakukan sehari-hari, seperti puasa, sholat, wudhu, mandi. Dalam al quran di jelaskan supaya makan dan minum secara sederhana, tidak berlebih lebihan.

  1. Pendidikan Kemasyarakatan.

Ibadah sangat penting dalam masyarakat seperti mengeluarkan zakat, syariat yang berhubungan dengan masyarakat, seperti berhubungan rumah tangga. Hal hal yang berhubungan dengan pergaulan sesama manusia, hal hal yang juga berhubungan dengan ekonomi dan pemerintahan.

Kurikulum adalah salah satu komponen operasional pendidikan (islam), ia mengandung materi yang diajarkan secara sistematis dengan tujuan yang telah ditetapkan. Seorang guru yang akan merencanakan suatu pelajaran tidak cukup hanya mempunyai kemampuan saja akan tetapi ia juga harus menguasai materi pengajaran.

Kurikulum pendidkan islam pada periode Rasullah SAW baik di  Makkah maupun di Madinah adalah Al-quran, yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi, kejadian dan peristiwa yang di alami umat islam saat itu.

Rasulullah juga menyuruh para sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing. Rasulullah berkata kepada Zaid bin Sabit :”saya hendak berkirim surat kepada kaum suryani, saya kwatir kalau mereka menambah-nambah atau mengurangi sebab itu hendaklah engkau mempelajari bahasa suryani (bahasa Yahudi).” Lalu Zaid bin  Sabit mempelajari bahasa Yahudi itu, sehingga ia menjadi ahli dalam bahasa itu. Pernyataan Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa materi pelajaran yang berasal dari dunia luar bukan barang haram bagi islam, artinya sesuatu yang tidak boleh di pelajari, akan tetapi hal yang wajib dilakukan untuk pengembangan dakwah dan pendidikan islam ke dunia luar islam.

METODE PENGAJARAN RASULULLAH.

Metode pengajaran ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar.

Untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan dalam mengajar para sahabatnya, Rasulullah SAW menggunakan berbagai macam metode. Hal itu dilakukan untuk menghindarkan kebosanan dan kejenuhan siswa. Di antara metode yang di terapkan Rasulullah ialah:

  1. Metode ceramah. Menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangannya.
  2. Dialog. Misalnya dialog antara Rasulullah dengan Mu’az Ibn Jabbal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi kenegri yaman, dialog antara Rasulullah dengan para sahabat untuk mengatur strategi perang.
  3. Diskusi atau Tanya jawab. Sering sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum, kemudian Rasul menjawabnya.
  4. Metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana suatu tubuh maka anggota tubuh, lainnya akan turut merasakannya.
  5. Metode demonstrasi. Membiasakan kaum muslimin shalat berjamaah.
  6. Metode hafalan misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga Al-qur’an dengan menghafalnya.
  7. Metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan mi’raj dan tentang kisah pertemuan antara nabi Musa dan nabi Khaidir.
  8. Metode eksperimen, sosiodrama dan bermain peranan.

 

Dalam buku “Tarbiyah Islamiyah” yang ditulis oleh Najib Khalid Al-amar mengatakan bahwa, metode pendidikan islam yang di lakukan nabi Muhammad SAW. Pada periode mekkah dan madinah, adalah :

Melalui teguran langsung. Hadis Rasulullah SAW; Umar bin Salmah r.a berkata, “dahulu aku menjadi pembantu di rumah Rasulullah SAW, ketika makan, biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru, melihat itu beliau berkata, “hai ghulam, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu,”

Melalui sindiran: Rasulullah bersabda, “Apa keinginanmu kaum yang mengatakan begini begitu? Sesungguhnya aku sholat dan tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan akupun menikahi  wanita. Maka, barang siapa yang tidak senang dengan sunnahku berarti dia bukan golonganku.

Pemutusan dari jamaah: Pernah Ka’ab bin Malik tidak ikut beserta Rasulullah SAW dalam perang Tabuk, dia berkata “Nabi melarang sahabat lainya berbicara dengan aku. Disebutkan pemutusan hubungan itu berlangsung selama lima puluh malam.” (HR.Bukhari).

Melalui perbandingan kisah orang-orang terdahulu.

Menggunakan kata Isyarat: misalnya merapatkan dua jarinya sebagai perlunya menggalang persatuan.

Keteladanan: Setiap apa yang di sampaikan Rasulullah, maka yang menjadi uswah-nya adalah Rasulullah sendiri.

 

Metode Rasulullah SAW dalam mendidik anak dapat dilihat dari arti hadis berikut ini;

Anas r.a. berkata, “Rasulullah SAW, adalah orang yang paling baik ahlaknya. Aku punya saudara yang di panggil Abu Umar.  Dia anak yang sudah di pisahkan dari susuan. Jika datang beliau berkata, “Wahai Abu Umar, apa yang dilakukan nughair (burung kecil)?” kadang-kadang beliau bermain dengan dia. Jika tiba saat sholat sementara beliau masih berada di rumah kami, beliau memunta permadani yang ada di bawahnya, lalu permadani itu beliau sapu dan di tiup-tiup. Kemudian berdiri dan diikuti oleh kami di belakangnya.”(HR. Bukhari, Muslim, Tirmidji, dan Abu Daud ).

Dari hadist di atas nilai-nilai Tarbiyah yang dapat di petik ialah sebagai berikut;

  1. Meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak.
  2. Membersihkan pertanda adanya praktik amal untuk bisa berbuat bersih secara iman dan perilakunya nyata.
  3. Shalat Rasulullah di dalam rumah menanamkan pemahaman teladan di dalam urusan ibadah.
  4. Kalimat yang di ucapkan Rasulullah SAW, “Wahai Abu Umar, apa yang di kerjakan Nughair?” punya beberapa faedah di antaranya:
  5. Kata-kata akhirnya cocok dengan jiwa anak.
  6. Mudah di hafal.
  7. Mudah di ucapkan.
  8. Turunya Rasulullah ke atas intelek anak bisa membuahkan rasa optimis pada diri anak.
  9. Memakai cara dengan panggilan. Teori ini dapat memberikan kesan kepada keluarga bahwa anaknya sudah dewasa.

 

Darul Arqam.

Ketika kaum Quraisy gagal membujuk Abü Thâlib, mereka pun memilih untuk memusuhi Rasulullah saw secara langsung. Menghadapi kondisi yang demikian genting, Rasulullah saw segera mengambil langkah untuk menyelamatkan kaum Muslim dari semua siksaan. Ada dua langkah bijak yang diambil Rasulullah saw:

 

  1. Memilih rumah Arqam bin Abi al-Arqam aL-Makhzumi sebagai pusat dakwah dan tarbiyah.
  2. Memerintahkan kaum Muslim berhijrah.

 

Rumah Arqam berada di bawah Bukit Shafâ, jauh dari jangkauan kaum kafir. Rasulullah saw memilihnya sebagai tempat berkumpul kaum Muslim secara rahasia. Di sinilah, Rasulullah saw membacakan dan mengajarkan al-Qur’an. Tempat ini dipilih agar kaum Muslim aman, dan orang yang hendak masuk Islam dapat memeluk agama ini tanpa diketahui oleh orang-orang kafir. Jika Rasulullah saw dan kaum Muslim berkumpul secara terang-terangan, sudah pasti kaum musyrik akan menghalangi Nabi saw secara keji.

 

Pernah pada suatu kesempatan, para sahabat Rasulullah saw berkumpul di lereng-lereng perbukitan. Di tempat itu, mereka berkumpul untuk mendirikan shalat secara rahasia. Saat mereka sedang shalat, tak diduga beberapa orang kafir Quraisy melihat mereka. Para sahabat tentu saja kaget. Apalagi orang-orang kafir tersebut langsung mencaci-maki para sahabat dengan katakata kasar.

 

Cacian itu membuat para sahabat emosi. Mereka tidak mampu meredam amarah karena sangat kejinya kata-kata yang dilontarkan kaum kafir Quraisy. Sa’ad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat yang ada pada saat itu, segera bertindak. Dengan wajah penuh marah, ia segera menghampiri orang-orang kafir Quraisy. Perkelahian tak terhindarkan. Sa’ad berhasil membunuh salah satu dat mereka. Itulah darah orang kafir pertama yang tumpah akibat bertemunya dua kekuatan. (Ibnu Hisyâm).

 

Muncul kekhawatiran, jika benturan antara kaum Muslim dan musyrik terus terjadi, hal itu dapat membahayakan kaum Muslim. Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengambil keputusan untuk melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

 

Para sahabat menyembunyikan keislaman, dakwah, dan pertemuan mereka. Sementara Rasulullah saw sendiri melakukannya secara terang-terangan. Beliau berdakwah dan beribadah di depan mata kaum musyrik. Beliau tak takut terhadap keselamatan dirinya. Namun, untuk pertemuan dengan kaum Muslim, beliau melakukannya secara rahasia, agar mereka aman dari ancaman kaum musyrik.

 

 

Pendidikan Islam Pada Masa Khulafau Al-Rasyidin

Tahun-tahun pemerintahan Khulafa al-Rasyidin merupakan perjuangan terus menerus antara hak yang mereka bawa dan dakwahkan kebatilan yang mereka perangi dan musuhi. Pada zaman khulafa al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah SAW itu terulang kembali. Pendidikan islam masih tetap memantulkanAl-Qur’an dan Sunnah di ibu kota khilafah di Makkah, di Madinah dan di berbagai negri lain yang ditaklukan oleh orang-orang islam.

Berikut penguraian tentang pendidikan Islam pada masa Khulafa al- Rasyidin:

  1. Masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq

Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan KuttabKuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat rasul terdekat.

Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya.

  1. Masa Khalifah Umar bin Khattab

Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-qur’an dan ajaran Islam lainnya. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.

Pelaksanaan pendidikan di masa Khalifah Umar bin Kattab lebih maju, sebab selama Umar memerintah Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, ini disebabkan disamping telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya.

Pendidikan dikelola di bawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu,serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukan dan dari baitulmal.

  1. Masa Khalifah Usman bin Affan.

Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.

Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa ini diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian para pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah.

  1. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya itu ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat Islam.

Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin antara lain:

  1. Makkah
  2. Madinah
  3. Basrah
  4. Kuffah
  5. Damsyik (Syam)
  6. [19]
  7. Kurikulum Pendidikan Islam Masa khulafa al Rasyidin (632-661M./ 12-41H)

Sistem pendidikan islam pada masa khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri,tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin al;khattab yang turut campur dalam menambahkan materi kurikulum pada lembaga kuttab.

Materi pendidikan islam yang diajarkan pada masa khalifah Al-Rasyidin sebelum masa Umar bin Khattab, untuk pendidikan dasar:

  1. Membaca dan menulis
  2. Membaca dan menghafal Al-Qur’an
  3. Pokok-pokok agama islam, seperti cara wudlu, shalat, shaum dan sebagainya

Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajari:

  1. Berenang
  2. Mengendarai unta
  3. Memanah
  4. Membaca dan menghapal syair-syair yang mudah dan peribahasa.

Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari:

  1. Al-qur’an dan tafsirnya
  2. Hadits dan pengumpulannya
  3. Fiqh (tasyri’)

 

 

 

 

Advertisements

Anak Muda

segalanya selalu baru dalam hidup yang dijalani anak muda. dengan rasa ingin tau yang begitu dalam adalah modal penting dalam pembelajaran untuk mengetahui arti kehidupan yang sesungguh. itulah anak muda, siap menerima apapun hasil dalam perjuangan dan pembelajarannya. tidak ada yang salah dalam proses pembelajaran, yang salah iyalah yang tidak ingin belajar.

tak kenal lelah dan dapat menaklukan rasa takut dimiliki manusia ketika di usia yang masih muda. kekuatan besar ada dalam dirimu dan itu perlu di bangunkan dari tidurnya.

semuanya adalah proses pencarian, tentang makna dan tujuan. bukan hanya di bangku sekolah tetapi dalam seluruh kehidupannya adalah pembelajaran. dan masa muda berhasil seandainya sudah memiliki bahasa kesimpulan tentang kebenaran. tumbuh keyakinan dalam hati yang harus di perjuangkan.

sempat berada dalam kebimbangan bahkan dalam menetapkan arti kebenaran. bertanya-tanya kepada diri sendiri dan sekitar tentang apa yang baik dalam hidup ini. hingga semuanya pasti ditemukan akan kebenaran mutlak. benar dalam membawa diri ini, benar dalam berhubungan sesama manusia, benar dalam menggunakan kekayaan, dan benar hidup dari awal sampai akhir hidupnya. semuanya memiliki nilai, ketika di yakini anak muda itu sudah dewasa

Akhlaq dan Pancasila

pancasila adalah pandangan hidup sebagai pemersatu bangsa. tentang ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, dan keadilaan. proses terbentuknya pancasila di mulai tanggal 1 juni 1945 usulan Bung Karno : 1. kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. keadilan sosial, 5. Ketuhanan. oleh Bung Karno ketuhanan di simpan di paling akhir.

lalu ketika pada Tanggal 22 Juni 1945 dalam Piagam Jakarta menjadi 1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, 2. kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. persatuan Indonesia, 4. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

atas tekanan Jepang pada tanggal 18 Agustus 1945 sila pertama di ubah. dan sampai sekarang pancasila menjadi 1. ketuhanan yang maha esa, 2. kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. persatuan Indonesia, 4. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, 5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

pada 1 Juni 2017, saat ini semua orang membahas tentang pancasila. dimulai dengan hari lahirnya pancasila sampai pemaknaan dan cara mengamalkan pancasila. dalam sejarah lahirnya pancasila itu untuk mempersatukan bangsa Indonesia agar kuat dalam mengahapi permasalahan penjajahan. bagaimana dengan zaman sekarang ?

ketika ingin mempelajari dan mengamalkan pancasila. yang harus di utamakan adalah akhlaq individu dahulu. dengan memiliki kepribadian yang baik dalam mempersatukan bangsa lewat pancasilapun akan sangat baik. tapi di saat ini manusia lupa dengan akhlaq dirinya tapi sibuk dengan hal yang lebih besar. segala sesuatu haruslah dimulai dari hal terkecil baru ke hal yang besar yaitu di mulai dari akhlaq yang baik setiap individu.

sama seperti para pahlawan yang memiliki kualitas hidup yang baik lalu di satukan lewat pandangan hidup pancasila sehingga semakin kuat dan permasalahan dari penjajah pun dapat diselesaikan.

akhlaq yang baik di atas pancasila. tidak akan ada permasalahan dalam mengkaji pancasila selama orang-orangnya bijaksana. Indonesia yang mayoritas islam dapat mencontoh dari nabi Muhammad saw. dalan segi ibadah ritual dan sosialnya. karena Islam dapat bertahan dan semakin luas karena akhlaq, bukan oleh peperangan seperti bangsa mongol.

tanggal 1 Juni 2017 adalah evalusia untuk semua orang terkait pancasila. agar terciptanya masyarakat adil dan makmur sesuai yang di harapkan seluruh manusia di negeri ini. dimulai membenahi akhlaq, menghilangkan rasa rakus, sombong, licik, iri, dan sifat buruk lainnya. sehingga pancasila adalah pandangan hidup untuk pemersatu manusia-manusia yang baik.

 

2 rutinitas salah dalam Bulan Ramadhan

bulan ramadhan ini semua umat islam diharuskan giat dalam ibadah karena banyaknya pahala yang Allah swt berikan di bulan Ramadhan ini. tetapi banyak rutinitas yang salah di budaya kita yang membuat umat islam terhalangi untuk fokus dalam menjalani ibadah di bulan ramadhan ini. dikarenakan telah menjalani budaya sampai-sampai tidak sadar akan kesalahan-kesalahannya. berikut inilah rutinitas salah dalam Bulan Ramadhan:

1. terlalu banyak acara buka bersama di rumah makan.

kumpul sebelum Magrib bersama semua teman-teman yang akan menjalani buka bersama. berbincang-bincang sebagai percair suasana untuk menunggu Adzan magrib berkumandang, ketika Adzan berkumandang. semua berbuka, memakan dan meminum yang sudah dipesan. kembali berbincang-bincang dengan teman-teman, sampai waktu isya lewat. dan ketika waktu semakin malam semua pulang, waktu kajian setelah isya dan tarawih terlewat. karena lelah akan kehidupan di pagi hari sampai malam yang membuat langsung tidur, tidak pengajian dan tarawih, kalau acara tersebut penuh selama bulan ramadhan maka nilai-nilai di bulan ramadhan tidak didapatkan. banyak ibadah yang tidak kuat di jalankan di selain bulan Ramadhan tidak juga bisa dijalankan di bulan ramadhan karena terhalangi oleh kegiatan yang padat selama ramadhan.

2. belanja terus sampai lebaran

mencari pakaian-pakaian baru dengan terus mengelilingi toko-toko penjual pakaian, untuk mencukupi kebutuhan dan mengisi waktu shaum agar tidak terasa sampai adzan magrib berkumandang. merasa kurang dengan pakaian yang telah dimikili sampai hari esoknya kembali pergi menuju toko-toko pakaian, bahkan banyak diskon yang diberikan penjual pakaian sehingga semakin semangat untuk mencari pakaian yang murah dan bagus untuk dibeli. toko pakaian selalu penuh di bulan ramadhan. semua orang berbondong-bodong membeli pakaian. setelah kerja atau sekolah langsung menuju toko-toko pakaian untuk mengisi hari-hari agar menarik dan bahagia. namun apabila itu dilaksanakan secara berlebihan sampai-sampai lupa mengaji sangatlah rugi. karena pahala di lipatkan gandakan ketika bulan ramadhan. padahal belanja bisa dilakukan di selain bulan ramadhan.

hanya dua kegiatan itu yang apabila dilakukan berlebihan yang dapat menghalangi kefokusan untuk mencari pahala di bulan ramadhan ini. haruslah bijaksana dalam mengisi kehidupan, adil dalam mencari urusan dunia dan akhirat. karena kehidupan dunia ini hanyalah sementara. apabila itu tidak terkendali akan celaka kepada diri sendiri.

Bulan Ramadhan (2)

menjalani Bulan ramadhan dengan status sebagai mahasiswa. budaya mahasiswa dalam berbicara dan bertindak haruslah ilmiah, akal manusia sebagai penilaian kebenaran. tetapi semuanya berbeda di bulan ramadhan ini. seluruh ucapan dan tindakan dalam hidup tidak mengedepankan pemikiran, hanya kepasrahan yang bersifat menyeluruh dalam diri ini kepada perintah-perintah Allah swt. percaya akan kebeneran-kebenaran mutlak di dalamnya. menjalaninya secara menyeluruh dengan hati yang tidak ragu.

semua ini menjadikan mahasiswa yang tidak memberhalakan akal, pemikiran hanyalah sebagai alat untuk menganalisis kehidupan lalu dilanjutkan agamalah solusi dalam menyelesaikan permasalahannya.

mahasiswa selalu bertemu dengan pemikaran modern dan post-modern. semuanya telah dilewati oleh manusia. itu hanyalah sejarah. dan masa ini adalah masa pencerahan. karena masih banyak dampak-dampak dari modern dan post-modern yang berada di masa ini. itu di jawab oleh Agama.

modern dengan mengedepankan akal manusia sebagai penuntun berdampak perang dunia sudah tidak bisa sebagai pegangan. post-modern dengan menolak semua kebenaran sebagai pegangan yang berdampak manusia bebas melakukan apapun sangatlah berbahaya bagi kehidupan manusia sudah tidak bisa bisa sebagai pegangan. masa ini adalah masa yang di mana seluruh kehidupan manusia taat kepada agama yang benar, yang tidak ada perubahan apapun. agama yang bisa menjawab tantangan modern dan agama yang bisa menyelesaikan permasalahan post-modern dengan nihilismenya. agama islam menjawab semua ini dengan demikian di Bulan Ramadhan ini adalah waktu untuk memperlajari secara baik dan benar tentang Islam dimulai dari al-qur’an dan as-sunnah.

Bulan Ramadhan (1)

semua hal yang telah di persiapkan untuk menjalani ibadah di bulan ramadhan harus diperjuangkan agar target-target dapat di capai. dengan pandai membaca situasi dan cerdas dalam mengatur rutinitas adalah syarat utama agar target-target dapat dicapai. hanya di fokuskan kepada tiga hal untuk target di Bulan Ramadhan ini, yaitu Shalat wajib Berjamaah, Shalat Tarawih terlaksanakan penuh, dan baca Al-qur’an sebanyak mungkin.

Bulan ramadhan sebelum-sebelumnya target tersebut belum tercapai. dikarenakan sibuk dengan kerjaan dan banyaknya acara buka bersama membuat tarawih terganggu. dengan demikian perlu dihindari dua hal tersebut yang pertama tentang sibuk dengan kerjaan, jangan sampai dunia membuat ibadah menjadi terganggu. dan acara- acara buka bersama hanyalah kegiatan yang membuat ibadah di ramadhan ini tidak fokus.

semua rutinitas tentang mencari harta dan berkumpul dengan teman-teman bisa dilakukan di luar bulan ramadhan tapi mengapa semua itu di tekankan di bulan Ramadhan yang jelas merupakan bulan yang memiliki banyak pahala.

Bulan Ramadhan adalah bulan evalusia selama setaun. menimbang-nimbang kehidupan sebaik-baiknya. mencari kesalahan yang harus dibenahi dan meningkatkan kebaikan yang telah dilakukan.

sudah berjalan lima hari, tadarus dan tarawih selalu dilakukan. semua pemikiran dan perasaan tunduk kepada perintah-perintah Islam. menyerahkan sepenuhnya seluruh kehidupan beserta permasalahan-permasalahannya dan meminta bimbingan kepada Allah swt agar diberikan petunjuk sehingga selamat dalam hidup ini.

semua rutinitas ini berada di atas akal manusia. inilah yang namanya kebahagian mutlak, kebenaran mutlak. dan pasti orang-orang yang tidak beriman kepada Allah swt menggangap semua ini adalah omong kosong belaka yang tidak memberikan mamfaat apapun.  yang jelas ketika manusia yakin terhadap Allah swt harus menundukan pemikiran dan perasaannya kepada perintah-perintahnya di Al-qur’an dan As-sunnah. jangan sampai memberhalakan akal pemikiran sehingga akal menjadi pegangan yang menuntun kehidupan.

padahal ketika pemikiran dijadikan segalanya sehingga tidak terkendali maka kehidupan itu akan hancur. seperti pemikaran menuntun manusia membangun bangunan yang berlebihan sampai merusak alam atau pemikiran yang menuntun manusia membat pabrik-pabrik yang merusak sungai di sekitarnya. tundukan liarnya pemikiran kepada perintah perintah Islam agar tidak berlebihan, tidak rusak, dan tidak hancur kehidupan ini. evaluasi total di Bulan Ramadhan

 

Puisi Zaman Paganisme

Aku datang di tengah kekacauan

mengantarkan manusia haus berhala kepada berhala

maharaja Rumawi menindas rakyatnya

maharaja Persia paling congkak, tuli dan buta.

….

 

seorang penyair melukiskan keadaan masa itu dengan mudah dimengerti yang terdapat di buku Fiqhuh Sirah karya Muhammad Al-Ghazaliy. kegelapan yang menyelimuti hati dan pikiran akibat lenyapnya cahaya tauhid, pada akhirya menjalar sampai kepada adat kebiasaan kelompok-kelompok manusia dan berbagai sistem kekuasaan. bumi menjadi tempat segala jenis srigala yang penuh dengan pembunuhan dan perenggutan nyawa sehingga kaum yang lemah tidak sempat menikmati keamanan dan ketentraman.

bagaimana dengan kondisi di zaman sekarang? apakah terasa kejahatan seperti yang terjadi di zaman paganisme dulu ? tentang kekuasaan yang memihak kepada yang kaya saja. tentang yang lemah selalu di tindas. apakah sejarah terulang kembali? mempelajari sejarah dan melihat kondisi saat ini, permasalahannya sama yaitu semakin banyaknya yang mengabaikan cahaya tauhid. mudah-mudahan Allah swt tetap memberikan petunjuk kepada manusia zaman sekarang. tetap memegang erat tali jalan Allah swt.